Berkunjung Ke Tanah Toraja

Standar

Tana Toraja merupakan objek wisata yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Awal tahun ini saya punya kesempatan berkunjung ke kecamatan Sesean Kabupaten Toraja Utara. Toraja Utara merupakan daerah otonom hasil pemekaran kabupaten tanah Toraja yang terletak sekitar 380 km sebelah utara Makassar. Wilayah Toraja secara keseluruhan sangat terkenal dengan bentuk bangunan rumah adat serta Upacara Pemakamannya.

DSCN2729Jika anda ingin berwisata Ke Tana Toraja dapat menggunakan penerbangan domestik Makassar-Tana Toraja. selama  45 menit dari Bandara Hasanuddin Makassar. Dapat pula ditempuh dengan kendaraan darat, membutuhkan waktu 8-10 jam perjalanan. Jika anda memilih jalur transportasi darat sepanjang perjalanan dari makasar anda akan menikmati pemandangan yang indah, di wilayah pare pare anda akan melintas sepanjang pantai dan sebelum memasuki Kabupaten Enrekang anda dapat menikmati keistimewaan  dan keindahan khas Gunung  Buttu Kabobong , yang bentuknya mirip mahkota.


Menurut mitos yang  diceritakan dari generasi ke generasi, nenek moyang asli orang Toraja turun langsung dari surga dengan cara menggunakan tangga, di mana tangga ini berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (satu-satunya Tuhan).

Masyarakat Toraja menganut “aluk” atau adat yang merupakan kepercayaan, aturan, dan ritual tradisional ketat yang ditentukan oleh nenek moyangnya. Meskipun saat ini mayoritas masyarakat Toraja banyak yang memeluk agama Protestan atau Katolik tetapi tradisi-tradisi leluhur dan upacara ritual masih terus dipraktekkan.

Masyarakat Toraja membuat pemisahan yang jelas antara upacara dan ritual yang terkait dengan kehidupan dan kematian. Hal ini karena ritual-ritual tersebut berterkaitan dengan musim tanam dan panen. Masyarakat Toraja sendiri mengolah sawahnya dengan menanami padi jenis gogo yang tinggi batangnya. Di sepanjang jalan akan Anda temui padi dijemur dimana batangnya diikat dan ditumpuk ke atas. Padi dengan tangkainya tersebut disimpan di lumbung khusus yang dihiasi dengan tanduk kerbau pada bagian depan serta rahang kerbau dibagian sampingnya.

Tana Toraja memiliki dua jenis upacara adat yang populer yaitu Rambu Solo dan Rambu Tuka. Rambu Solo adalah upacara pemakaman, sedangkan Rambu Tuka adalah upacara  atas rumah adat yang baru direnovasi.

Khusus Rambu Solo, masyarakat Toraja percaya tanpa upacara penguburan ini maka arwah orang yang meninggal tersebut akan memberikan kemalangan kepada orang-orang yang ditinggalkannya. Orang yang meninggal hanya dianggap seperti orang sakit, karenanya masih harus dirawat dan diperlakukan seperti masih hidup dengan menyediakan makanan, minuman, rokok, sirih, atau beragam sesajian lainnya.Upacara pemakaman Rambu Solok adalah rangkaian kegiatan yang rumit ikatan adat serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Persiapannya pun selama berbulan-bulan. Sementara menunggu upacara siap, tubuh orang yang meninggal dibungkus kain dan disimpan di rumah leluhur atau tongkonan. Puncak upacara Rambu Solok biasanya berlangsung pada bulan Juli dan Agustus. Saat itu orang Toraja yang merantau di seluruh Indonesia akan pulang kampung untuk ikut serta dalam rangkaian acara ini. Kedatangan orang Toraja tersebut diikuti pula dengan kunjungan wisatawan mancanegara.

Dalam kepercayaan masyarakat Tana Toraja (Aluk To Dolo) ada prinsip semakin tinggi tempat jenazah diletakkan maka semakin cepat rohnya untuk sampai menuju nirwana. Bagi kalangan dari bangsawan yang meninggal maka mereka memotong kerbau yang jumlahnya 24 hingga 100 ekor sebagai kurban (Ma’tinggoro Tedong). Satu diantaranya bahkan kerbau belang yang terkenal mahal harganya. Upacara pemotongan ini merupakan salah satu atraksi yang khas Tana Toraja dengan menebas leher kerbau tersebut menggunakan sebilah parang dalam sekali ayunan lalu kerbau pun langsung terkapar bermandikan darah beberapa saat kemudian.

Masyarakat Toraja hidup dalam komunitas kecil dimana anak-anak yang sudah menikah meninggalkan orangtua mereka dan memulai hidup baru ditempat lain. Meski anak mengikuti garis keturunan ayah dan ibunya tetapi mereka semua merupakan satu keluarga besar yang tinggal di satu rumah leluhur (tongkonan). Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja. Oleh karena itu, semua anggota keluarga diharuskan ikut serta sebagai lambang hubungan mereka dengan leluhur.

Tanah Toraja sendiri kini terbagi dalam dua wilayah Kabupaten, yaitu Tana Toraja dengan ibu kota Makale dan Toraja Utara dengan ibu kota Rantepao. Berikut ini beberapa objek menarik yang dapat memberi Anda kesan saat berkunjung ke Tana Toraja.

Kubur Batu

Orang toraja memiliki berbagai cara untuk menguburkan kerabat mereka yang sudah meninggal. Salah satunya dengan membuat kuburan batu. Batu yang digunakan berjenis  batu karang yang besar. Batu tersebut di lubangi  dengan pahat dengan pengerjaan memakan waktu lama, bisa berbulan bulan tergantung ukuran dan luas ruangan yang akan dipahat di dalam batu. Dalam batu akan dibuat ruangan ruangan untuk menyimpan jenasah, ada yang berukuran 3×4 meter atau bahkan lebih, tergantung berapa jenasah yang akan dikuburkan dalam satu ruangan.

Di kampung Batutumonga kecamatan sesean kabupaten Toraja utara saya temukan kuburan batu ini. Letak batu yang dijadikan makam sangat beragam, ada ditebing, pingir jalan raya, bukit, tegah sawah bahkan dekat rumah penduduk. Setiap tahun ada sebuah tradisi pergantian baju mayat.

Salam dari tanah Toraja buatmu yg sudah membaca..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s