Panggung “suara” di KPK

Standar

Beberapa hari lalu, para seniman dan budayawan mendatangagi gedung KPK.  Mereka menyatakan keprihatinannya atas situasi korupsi di negeri ini sekaligus menyatakan siap mendukung dan membela kerja-kerja KPK.

Gerson Poyk

Dari sederet para seniman dan budayawan itu ada dua nama pengarang sastra yang luput dari perhatian. Yaitu Gerson Poyk, sekarang 82 tahun, masih bersepeda, masih merokok, dan masih menulis, serta Achmad Tohari, penulis Ronggeng Dukuh Paruk, yang karyanya baru difilmkan, khusus datang dari kampung halamannya di Jawa Tengah. Para awak media yang banyakan anak muda, agaknya tak mengenali mereka berdua.

Keduanya tidak tampil aneh dan berbeda, dan lebih dikenal dari karya tulisnya—bukan penampilan atau kemunculan secara pribadi. Padahal puluhan wartawan siap di halaman gedung. Siap dengan kamera, dengan mikrofon, dengan pertanyaan hapalan, “Bagaimana komentar Anda tentang…”

Halaman gedung KPK sudah menjadi semacam panggung. Panggung untuk pentas dalam artian sesungguhnya, ada rombongan penyanyi berkoor menyanyikan lagu-lagu membela KPK, ada perorangan yang melakukan orasi, ada yang menyebarkan selebaran, ada yang berfoto bersama, ada ibu-ibu dari daerah yang memeriahkan suasana sambil membagi kartu nama. Juga panggung berbagai nara sumber, baik yang diperiksa sebagai saksi, sebagai calon terdakwa lengkap barisan pengawal atau pengacara. Ruang yang sempit untuk melintas mobil benar-benar menjadi hidup, ramai, dengan para pemburu berita. Mereka kemudian ngumpul bersama di ruang person, untuk bertanya dan atau mendengarkan nara sumber.

Achmad Tohari

Suasana ini tercipta dengan sendirinya. Kalau zaman Orba ada wartawan yang bertugas di Istana, di DPR, di Kepolisan, atau mana saja—mereka merupakan komunitas yang kurang lebih sama, di sini tak ada pengkhususan. Tercipta karena kebutuhan , baik dari pihak nara sumber ataupun pencari berita. Maka tidak mengherankan kalau setiap hari bisa ada berita dari depan halaman gedung.

Baik yang hardcore, atau sejumlah gadis bercelana sangat pendek. Baik yang bisa membuat breaking news, sampai pokoknya liput dulu, urusan tayang belakangan. Dinamika inilah yang melahirkan pasar tumpah, atau pasar tiban, atau pasar di antara jalan sempit di kampung. Bedanya panggung ini tidak mengganggu arus lalu lintas. Lalu lintas berita terkomunikasikan, menyebar, dan merangsang opini.

Halaman depan panggung gedung KPK menciptakan mekanisme dinamis yang tak terbayangkan. Kini kalau ada yang datang dan membuka baju—atau memplester bibirnya, atau apa saja, pasti disambut dengan kamera. Bagaimana kelanjutannya, seleksi dan editing yang menentukan. Tapi sebagai langkah pertama, the first step in, sudah bisa dilalui.

Ini yang membedakan dengan halaman gedung yang lain—gedung sesama penegak hukum, yang bahkan menyiapkan ruangan khusus untuk pers berfasilitas. Halaman gedung KPK telah menjadi panggung pentas dengan pengisi acara yang datang dengan suka rela—atau terpaksa kalau ia menjadi calon atau tersangka. Para tokoh yang dikenal—atau sangat dikenal masyarakat—bisa tampil memikat atau bungkam dengan jurus puasa bicara. Tak penting benar, karena narasi bisa diberikan oleh media mengenai tatanan rambut, gaun yang dikenakan, atau rasa galau yang menyertai.

Panggung gedung halaman itu kini seakan panggung yang terang benderang, dengan audiens yang berada di tempat gelap dan siap menelanjangi—atau memata-matai. Sejak datang, di ruang tunggu berkaca yang mudah dicuri keberadaannya. Panggung terbuka yang bebas menerima kedatangan pemulung yang merelakan uang recehnya, atau rombongan polisi, atau komunitas tertentu, atau perorangan, yang bisa mengeskpresikan keinginannya. Panggung itu telah tercipta. Dan kita bisa mengikuti acaranya, cukup di rumah saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s