IZIN PERTAMBANGAN : Seperti Makhluk Asing yang Tiba-tiba Menyergap

Standar

Masyarakat bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, setidaknya sejak April lalu dikejutkan oleh kehadiran izin usaha pertambangan baru yang ditandatangani Gubernur NTT Frans Lebu Raya pada 15 November 2011. Betapa tidak, izin usaha pertambangan bagi PT Mahidana Tantragata atas areal 12.020 hektar dan diasumsikan membentang lintas kabupaten itu seperti makhluk asing yang tiba tiba menyergap!

Di Desa Wae Codi, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (19/5), umumnya tanaman kemiri menjadi andalan utama kehidupan warga. Saat ini warga terkejut bahwa desa mereka akan menjadi areal penambangan mangan PT Mahidana Tantragata. Mereka tak mengetahui investor itu dan tak tahu bahwa desa mereka berkandungan mangan.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTT Danny Suhadi, Selasa (15/5), areal berpotensi mangan itu terbentang di enam desa, yaitu tiga desa di Manggarai Barat dengan areal seluas 10.770 hektar dan tiga desa lain di Manggarai yang meliputi areal 1.250 hektar.

Di Manggarai Barat, ketiga desa itu adalah Rego, Wontong, dan Mbakung, yang berada di Kecamatan Macang Pacar. Kawasan itu berlokasi di sekitar perbatasan wilayah sebelah barat bagian utara Kabupaten Manggarai. Jaraknya lebih kurang 190 kilometer dari Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, atau sekitar 100 kilometer dari Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai.

Selama Jumat-Sabtu (19/5) lalu, Kompas berkesempatan mengunjungi lima dari enam desa yang menjadi titik areal mangan PT Mahidana Tantragata (MT) tersebut. Kelima desa yang hanya bisa dijangkau mobil bergandan ganda adalah Latung, Wae Codi, dan Lante (Manggarai) serta Rego dan Wontong (Manggarai Barat).

Warga Desa Latung, Dorotheus Morung (28), mengakui pernah mendengar bahwa desanya beberapa kali dikunjungi pengusaha atau investor yang berniat menambang mangan di wilayah desanya itu. Bukit Lingko Ajang dalam wilayah Desa Latung disebut-sebut selalu menjadi incaran utama karena di kawasan tersebut dilaporkan memiliki kandungan mangan.

Dorotheus Morung di Rutung—satu dari enam anak kampung di Desa Latung—tidak mengetahui nama perusahaan para pengusaha itu. Ia juga mengaku tidak pernah mendengar nama PT Mahidana Tantragata, yang secara resmi telah mengantongi izin usaha pertambangan (IUP) eksplorasi mangan yang arealnya termasuk di Desa Latung. ”Saya tidak pernah dengar nama perusahaan itu,” tutur ayah dua anak itu.

Pengakuan senada dilontarkan oleh Sekretaris Desa Latung Markus Mantul. Memang ada sejumlah pengusaha mangan yang pernah berkunjung ke Desa Latung. Tujuannya adalah menjajaki kemungkinan melakukan penambangan mangan di Lingko Ajang. Ia tidak bisa memastikan ada PT MT di antara para pengusaha tersebut.

Namun, kegiatan penambangan di Latung hingga pekan ketiga Mei lalu tak kunjung terlaksana. Itu karena masyarakat setempat bersama para tetuanya selalu dengan sikap sama, menolak tambang! Alasan mereka karena di sekitar kaki Bukit Lingko Ajang terdapat sumber mata air serta dua anak kampung, yakni Tonggong dan Suseng. ”Masyarakat khawatir sumber air akan mengering dan kedua kampung menjadi korban jika Lingko Ajang ditambang,” tutur Markus Mantul di Latung, desa yang kini berpenduduk 1.210 jiwa atau 275 keluarga.

Tanda silang merah

Kepala Desa Wae Codi Vinsensius Dandung dan sekretarisnya, Blasius Ende, tersentak ketika mengetahui bahwa bagian wilayah desanya menjadi areal tambang mangan PT MT. Sebenarnya bayangan tentang pertambangan jauh di awang-awang karena memang tidak pernah ada kabar tentang potensi berbagai jenis tambang di desa yang kini berpenduduk 1.823 jiwa atau 394 keluarga itu. Kebetulan—seperti desa-desa tetangganya—Wae Codi dipadati aneka jenis tanaman perdagangan, seperti kemiri, kakao, kopi, dan cengkeh. Sejauh mata memandang hanyalah bentangan pemandangan hijau dari beragam jenis tanaman tersebut ditambah tegakan aneka jenis pohon.

Vinsensius Dandung dan Blasius Ende mengakui pernah dua atau tiga kali tim—entah dari mana—berkunjung ke Wae Codi. Tanpa lewat aparat desa setempat, tim itu dilaporkan langsung ke lapangan hingga meninggalkan tanda silang merah di beberapa titik. ”Kami tak tahu persis makna apa di balik tanda itu, apakah tanda sebaran areal berpotensi mangan atau maksud lainnya. Kami sendiri hingga kini belum memiliki informasi pasti di Wae Codi ada potensi tambang, termasuk mangan,” tutur Vinsensius Dandung.

Jika PT MT tiba-tiba ke lokasi dan langsung melakukan kegiatan eksplorasi, Blasius Ende menegaskan bahwa perusahaan itu tidak bisa asal serobot seperti itu. Jika ada bagian wilayah Wae Codi berkandungan mangan, menurut dia, penambangannya sangat bergantung pada kesepakatan masyarakat setempat. Penambangan hanya dimungkinkan jika masyarakat menyetujuinya. Sebaliknya, barangkali masyarakat Wae Codi memilih tetap mengandalkan beragam jenis tanaman perkebunan sebagai tumpuan hidup mereka, yang berarti tidak membiarkan lahannya menjadi lokasi tambang.

Jawaban sama sekali tak pernah mendengar atau mengenal PT MT juga diungkapkan oleh masyarakat Desa Lante di Kecamatan Reok. Padahal, Lante termasuk desa bertetangga dekat dengan Rego dan Wontong, dua dari tiga desa di Kecamatan Macang Pacar, yang menjadi kawasan utama areal mangan PT MT.

”Tidak ada perusahaan bernama Mahidana Tantragata di Lante. Kami juga tidak pernah mendengar perusahaan itu melakukan sosialisasi di Wae Codi,” tutur Maksimus Sambang (60), tetua Desa Lante.

Sekretaris Desa Lante Frans Deman membenarkannya. ”Kami tidak mengenal PT Mahidana Tantragata,” tuturnya. Desa yang berpenduduk 1.007 jiwa atau 265 keluarga ini berlokasi sekitar 30 kilometer sebelah barat Reo (kota Kecamatan Reok, atau lebih kurang 15 kilometer sebelum pusat Desa Rego dan Wontong di sebelah baratnya. Perjalanan dari Lante ke Rego atau Wontong harus melewati wilayah Desa Nggalak (Reok).

Keterkejutan lebih tegas disampaikan Kepala Desa Rego Rikardus Biono dan Kepala Desa Wontong Stefanus Gerak, yang dijumpai di desa masing masing. Sejujurnya, tentang tambang sebenarnya telah lenyap dari bayangan mereka seiring penggantian kepemimpinan Bupati Manggarai Barat dari Fidelis Pranda kepada Agustinus Ch Dula, akhir Agustus 2010. Sang bupati baru lebih mengutamakan pengembangan pariwisata, pertanian, dan perkebunan di wilayahnya. Alasan lain karena Rego dan Wontong sejauh ini dikenal bukan sebagai kawasan tambang, termasuk mangan.

Baik Rikardus maupun Stefanus sama sama beranggapan, kalau PT MT benar benar mau menambang mangan di desa mereka, itu kabar baru, yang juga berarti di kawasan tersebut ada kandungan mangannya. ”Kami belum pernah mengenal investor dari perusahaan tersebut. Namun, untuk pelaksanaan penambangannya bergantung pada kesepakatan masyatakat setempat dan kebijakan Pemkab Manggarai Barat,” ujar Rikardus Biono.

Kehadiran IUP yang kini dikantongi PT MT memang sedang menjadi polemik panjang. Ada dugaan kuat prosesnya tidak dimulai dari bawah. Keterangan dan catatan langsung dari lapangan menguatkan dugaan tersebut. Dugaan itu terasa makin kokoh seiring pengakuan Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula dan Bupati Manggarai Chris Rotok bahwa keduanya tidak pernah menandatangani rekomendasi sebagai persyaratan utama penerbitan IUP oleh Gubernur NTT. Diakui pula penerbitan IUP tersebut tanpa didahului sosialisasi sebagai persyaratan standarnya. Jika begitu, kehadiran IUP lintas kabupaten tersebut tak bedanya makhluk asing yang tiba tiba menyergap!

Sumber, Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s