Mengejar Ringgit untuk Mengubah Nasib

Standar

Belasan ribu orang dari Nusa Tenggara Barat pergi ke Malaysia sebagai tenaga kerja Indonesia. Para TKI asal NTB itu berharap, dengan bekerja di Malaysia mereka mampu mengubah perekonomian keluarganya di daerah asal masing-masing.

Sabtu (28/4) pagi, Inaq Abil mengantarkan kami ke rumah baru dan masih kosong. Ibu itu menerangkan, rumah kosong itu rencananya akan ditempati Misdar, anak keenamnya yang juga dipanggil Mad Noor. ”Tanah ini saya yang beli, bukan Noor. Noor kadang-kadang mengirim uang untuk membeli bahan bangunannya,” kata Inaq.

Inaq Abil, ibu almarhum Mad Noor, membawa foto Mad Noor alias Misdar, ketika ditemui di rumahnya di Dusun Gubuk Timuk, Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (28/4). Mad Noor dan dua tenaga kerja Indonesia asal Lombok Timur, yakni Abdul Kadir Jaelani dan Herman, tewas dalam insiden penembakan oleh polisi Malaysia di Negara Bagian Negeri Sembilan, akhir Maret 2012.

Inaq mengatakan, rumah tersebut dibangun selama empat tahun. Rumah itu terdiri dari 2 kamar tidur, 1 ruang tamu, dan 1 ruang keluarga. Ukuran bangunannya sekitar 6 x 8 meter. Besar rumah tersebut tidak jauh berbeda dengan rumah tetangga keluarga Inaq di Dusun Gubuk Timuk, Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, NTB.

Tembok rumah belum dicat, lantai juga belum dipasangi keramik. Kisah rumah itu pun diwarnai duka. Mad Noor tidak lagi dapat mengirimkan uang kepada keluarganya untuk menuntaskan pembangunan rumahnya itu.

Mad Noor, lelaki kelahiran 19 November 1984, tewas ditembak aparat kepolisian Malaysia pada 24 Maret 2012. Selain Mad Noor, dua TKI asal Pringgasela, yaitu Herman dan Abdul Kadir Jaelani, juga tewas ditembak aparat kepolisian Malaysia di wilayah Negeri Sembilan, Malaysia, pada 24 Maret 2012 (Kompas, 28/4).

Jenazah Mad Noor sudah dimakamkan pada Jumat (6/4) lalu, tetapi sampai Sabtu (28/4) lalu, Inaq Abil dan keluarga Mad Noor di Desa Pengadangan masih diselimuti perasaan kehilangan. Kehilangan dan perasaan duka serupa Inaq Abil atas Mad Noor dirasakan juga oleh Sri Hayati, ibu Herman, TKI asal Dusun Pancor Kopong, Desa Pringgasela Selatan, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur.

Ibu tiga anak itu belum mampu mengusap kesedihannya atas kematian putra sulungnya. Herman dimakamkan 6 April lalu, hari yang sama dengan pemakaman dua TKI lainnya, Abdul Kadir Jaelani dan Mad Noor.

Selama proses pemakaman, keluarga curiga ketiga TKI itu menjadi korban perdagangan organ manusia ilegal karena ditemukan sejumlah jahitan pada tubuh TKI itu.

Kecurigaan pihak keluarga atas indikasi terjadinya pengambilan organ tubuh menjadi isu serius yang kemudian direspons Pemerintah Indonesia dan kepolisian. Ketiga jenazah TKI itu diotopsi pada Kamis (26/4) dan Jumat (27/4).

Di Jakarta, pihak Kementerian Luar Negeri dan Mabes Polri mengumumkan hasil otopsi yang menyatakan, organ bagian dalam tubuh dari tiga jenazah TKI itu masih ada. Terkait insiden tewasnya tiga TKI asal NTB itu, Pemerintah Indonesia mengirim tim investigasi ke Malaysia, dan Pemerintah Malaysia juga membentuk tim investigasi atas kasus itu.

Keluarga Abdul Kadir Jaelani, TKI asal Dusun Pancor Kopong, Desa Pringgasela Selatan, Lombok Timur, mengaku kurang puas dengan penjelasan tersebut dan mereka masih merasa curiga. M Tohri, kakak almarhum Abdul Kadir Jaelani, dan Sri Hayati, ibu almarhum Herman, juga mendesak pengusutan tuntas atas kasus tewasnya TKI tersebut.

Mengejar ringgit

Kasus kematian tiga TKI asal Lombok Timur di Malaysia tidak menyurutkan niat sejumlah warga NTB untuk berangkat ke Malaysia. Seperti diakui Rustiyah (35), perempuan asal Dusun Dasan Kubur, Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Jumat (27/4).

Rustiyah menyatakan masih ingin berangkat ke Malaysia apabila suaminya merestui. Rustiyah mengaku pernah menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia sekitar tujuh tahun (1994-2001). Hasilnya, Rustiyah bisa membeli tanah seluas lima are (500 meter persegi), dan membangun rumah di desanya.

Fenomena TKI asal NTB, menurut Abdul Haris, dalam bukunya Memburu Ringgit Membagi Kemiskinan: Fakta di Balik Migrasi Orang Sasak ke Malaysia (2002), menjadi buruh migran internasional ke Malaysia merupakan upaya paling rasional yang ditempuh sebagian besar migran asal Lombok dan NTB pada umumnya sebagai alternatif memperbaiki ekonomi mereka.

Data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB menunjukkan, jumlah TKI asal NTB ke luar negeri mencapai 58.230 orang pada 2011. Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemerintah Provinsi NTB Lalu Muhammad Faozal menyebutkan, jumlah TKI asal NTB di Malaysia diperkirakan mencapai 14.000 orang.

Pemerhati budaya Sasak, M Yamin, menyatakan, munculnya TKI asal Lombok lebih akibat desakan kebutuhan ekonomi dan keterbatasan lapangan pekerjaan di daerah asal, bukan didasari tradisi merantau. Ringgit di Malaysia menarik impian sebagian warga Lombok pergi ke negeri jiran itu.

Yamin menggambarkan, banyak TKI asal Lombok di Malaysia bekerja tidak jauh dari cangkul dan sawah, pekerjaan yang mereka biasa lakukan di desa asalnya. Kondisi itu, menurut Yamin, akibat calon TKI minim pendidikan dan kurang keahlian. Di sisi lain, masyarakat Lombok dikenal gigih, memiliki semangat kerja tinggi, dan pantang menyerah.

Dalam bukunya, Abdul Haris menyebutkan, jumlah TKI asal Lombok didominasi lulusan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) ke bawah. Kondisi itu, menurut dia, mengakibatkan usaha tenaga kerja asal Lombok ke luar negeri (Malaysia) tidak mengakibatkan perubahan status pekerjaan karena tenaga kerja asal Lombok di negara jiran juga bekerja di sektor pertanian dan perkebunan. Hal itu disebut Haris sebagai bentuk perpindahan tempat kerja (displacement of workplaces).

Muhammad Shaleh dari Koslata, lembaga swadaya masyarakat di NTB, menyatakan, pengiriman TKI asal NTB ke Malaysia dan negara lainnya hanyalah langkah memindahkan masalah pengangguran dan keterbatasan lapangan pekerjaan ke negara lain.

Kondisi tersebut didasari sejumlah alasan, antara lain tidak dipersiapkannya calon tenaga kerja menjadi tenaga berpendidikan dan memiliki keahlian untuk bekerja ke luar negeri.

Selain itu, kata Shaleh, hasil kerja para TKI asal NTB tidak diarahkan untuk kepentingan investasi dan masa depan seperti pendidikan anak, tetapi justru digunakan untuk keperluan konsumtif. Setelah hasil kerja habis, mereka pun harus berangkat lagi ke Malaysia sebagai TKI.

Demi memperoleh penghasilan lebih besar di Malaysia, para TKI berangkat lewat penyalur tenaga kerja resmi dan ada pula yang melalui jasa tekong alias pengirim tenaga kerja ilegal. Rustiyah tidak membantah. ”Di kampung sini masih banyak yang berangkat ke Malaysia, ada yang pakai jalur resmi, tetapi ada juga yang berangkat melalui tekong,” kata Rustiyah.

Melalui tekong, calon TKI laki-laki membayar sampai Rp 5 juta per orang. Rustiyah mengakui, tidak semua TKI dari desanya pulang dengan membawa hasil, ada pula yang pulang dengan kantong kosong.

Pengalaman menjadi TKI dituturkan M Tohri, kakak almarhum Abdul Kadir Jaelani. Tohri mengakui, mereka mengejar ringgit di Malaysia karena nilai ringgit menjadi lebih besar ketika dikonversikan ke rupiah.

Namun, keinginan berkumpul dengan keluarga membuat Tohri memilih pulang. Harapan membenahi kondisi perekonomian keluarga dilanjutkan saudara-saudara Tohri, termasuk Abdul Kadir Jaelani, dengan berangkat ke Malaysia. Namun, keinginan Abdul Kadir, Herman, dan Mad Noor untuk mengubah peruntungan mereka dan meningkatkan taraf ekonomi keluarga ternyata kandas.

sumber Kompascetak, 5 Mei 2012

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s