Kekerasan terhadap Jurnalis

Standar

Akhir pekan lalu kekerasan terhadap jurnalis mencuat ke permukaan. Kekerasan itu terjadi di sejumlah tempat di Tanah Air.

Di Padang, sejumlah jurnalis mengalami tindak kekerasan saat meliput penertiban warung yang diduga menjadi tempat asusila ke Kecamatan Lubuk Begalung, Padang. Penertiban warung itu dilakukan satuan polisi pamong praja. Adapun pelaku penganiayaan wartawan diduga adalah anggota marinir Pertahanan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut II Padang. Di Morowali, wartawan Kompas dan wartawan harian Mercusuar dikeroyok massa saat meliput antrean warga di SPBU, Bungku. Di Batam, kamera wartawan Batam TV dirampas seseorang saat meliput kelangkaan bahan bakar minyak.

Gejala kekerasan terhadap wartawan amat memprihatinkan! Gejala terakhir ini bakal memperpuruk wajah pers Indonesia dan kebebasan pers Indonesia. Indeks Kebebasan Pers Indonesia versi Reporters Without Borders kian terpuruk. Tahun 2011, Indeks Kebebasan Pers Indonesia berada pada angka 68 dan berada pada peringkat ke-146 dari 179 negara yang disurvei.

Kita menghargai langkah sigap dan cepat Komandan Lantamal II Brigadir Jenderal (Mar) Gatot Subroto yang langsung meminta maaf atas tindakan anggota marinir tersebut. Tersangka pelaku telah ditahan. Tak hanya itu, TNI AL juga membentuk Tim Pencari Fakta untuk mengungkap penganiayaan wartawan itu.

Kita mau mengingatkan bahwa pekerjaan wartawan dilindungi undang-undang, yakni UU No 40/1999 tentang Pers. Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara. Pers punya tugas memberikan informasi, memberikan edukasi, dan melakukan kontrol sosial. Meski mengemban tugas sebagai pemantau kekuasaan, dalam menjalankan tugasnya, wartawan terikat pada kode etik jurnalistik yang selalu harus jadi pedoman.

Sejauh terekam dalam pemberitaan, dua tindak kekerasan terhadap wartawan adalah saat mereka meliput warga yang antre bahan bakar minyak, di mana sejumlah orang membawa jeriken untuk membeli premium. Antrean panjang orang di SPBU adalah wilayah publik! Kita mengapresiasi langkah kepolisian yang telah menetapkan sejumlah tersangka dalam kasus kekerasan di Morowali.

Reaksi kemarahan massa di SPBU, terhadap wartawan yang meliput antrean warga untuk mendapatkan BBM, patut ditelusuri lebih jauh. Mengapa mereka harus marah dan menganiaya wartawan? Mau dikemanakan BBM itu? Selain kasus penganiayaan, distribusi BBM itu patut ditelusuri di tengah krisis BBM di sejumlah tempat.

Pekerjaan wartawan bukanlah tanpa kesalahan karena karya jurnalistik adalah pekerjaan manusia. Namun, keberatan terhadap karya jurnalistik sebaiknya disampaikan melalui hak jawab, hak koreksi, atau mengadukan media ke Dewan Pers, bukan malah menghalangi tugas wartawan, lebih-lebih menganiaya wartawan. Menghalangi tugas pers mencari informasi adalah pelanggaran terhadap UU Pers!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s