Pengalaman Seorang Pawang Komodo

Standar

Menjadi pawang komodo mungkin profesi yang tak menjadi bayangan anda. Namun itulah profesi dilakoni Jerman Abdullah yang menjadi pawang komodo selama 28 tahun.

Ia menjadi pawang sejak 1 Juli 1983. Dia belajar dari pawang senior. Setiap hari ia membawa turis menjelajahi (tracking) Pulau Komodo. Populasi komodo dalam kawasan taman nasional yang tersebar di pulau Komodo, Rinca, Padar dan Gili Motang pada waktu itu berjumlah hampir enam ribu ekor. Di Loh Liang sendiri sekitar 3000-an komodo.

Berbagai pengalaman ia dapatkan, termasuk diserang komodo.

Pada awal Mei 1986, Jerman membawa tracking sepasang turis suami istri dari Swiss ke Banu Nggulung. Di tengah jalan mereka melihat komodo kecil di atas pohon bidara. Saat mereka mendekat, komodo berukuran sedang langsung menyerang mereka bertiga. Ketiganya memanjat pohon, sementara komodo bahkan ikut naik ke pohon. Beruntung pada saat bersamaan dua orang pawang yang membawa turis datang menolong dan mengusir komodo itu.

Setelah selamat, Jerman lalu bertanya kepada turis wanita apakah tengah haid. Ternyata benar turis itu tengah haid. “Saya marah besar kepada keduanya. Sebab sebelum tracking saya sudah ingatkan yang sedang haid jangan ikut karena sangat berbahaya. Komodo sangat buas jika mencium darah,” ujarnya

Tak hanya diserang komodo, ia juga pernah diserang masyarakat. Saat itu ia ditugaskan menjaga pos di Kampung Rinca pada 1997. Siang hari seorang anak kecil berumur enam tahun sedang bermain di bawah kolong rumahnya, tewas setelah dikoyak komodo. Warga kampung yang dibakar emosi mengejar pawang, dan bahkan ada yang mengayunkan parang ke arahnya. Orang tuanya marah karena anaknya tewas akibat petugas lupa memberi makan komodo.

“Itulah kasus gigitan pertama selama saya menjadi pawang. Kematian anak itu masih menyisakan rasa bersalah dalam diri karena pada kejadian itu saya lah yang bertugas,” dia menambahkan.

Ia mengatakan komodo adalah binatang buas, sehingga harus berhati-hati menghadapinya. Jika tengah lapar, biasanya komodo merebahkan kepalanya di tanah diam, dan tenang. Namun dua bola matanya terus bergerak. Jika sudah begitu, wisatawan dilarang mendekat. Jika komodo melihat gerakan mengayun dari barang bawaan wisatawan, komodo yang diam itu akan tiba-tiba meluncur ke arah targetnya.

“Pernah turis Australia mengayun-ayunkan tali tasnya. Dengan sekali lompatan, komodo itu mengoyak kaki turis itu. Beruntung kakinya tidak buntung karena yang dikunyah komodo adalah sepatunya,” ujarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s