Refleksi Hasil Ujian Nasional

Standar

Dalam rubrik Pendidikan dan Kebudayaan harian ini, Senin (28/5), kita membaca berita tentang hasil ujian nasional.

Kelulusan ujian nasional (UN) jenjang SMA/MA/SMK di Merauke, Papua, mencapai 95 persen. Hanya saja, hal itu dinilai bukan patokan kualitas lulusan. Hal itu tidak usah dibanggakan, ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Merauke Vincentius Mekiuw di Merauke, Sabtu (26/5).

Menyimak pernyataan di atas menguatkan apa yang selama ini diwacanakan, khususnya saat UN tiba, yaitu adanya kesenjangan taraf pendidikan di Tanah Air. Di wilayah barat, pendidikan relatif maju. Lulusan UN bisa langsung bersaing secara setara di kancah perguruan tinggi terkenal. Sebaliknya, siswa dari Merauke, jika ingin masuk PTN terkenal, harus matrikulasi satu tahun kalau mau setaraf dengan lulusan setingkat dari Jawa.

Ini fakta yang harus kita respons. Bagaimana caranya, apakah harus meningkatkan kualitas guru, mari kita bicarakan bersama. Namun, satu hal yang sama-sama menjadi perhatian adalah memajukan mutu pendidikan secara nasional. Hal ini kita garis bawahi mengingat pendidikan menjadi salah satu faktor penting, kalau bukan kunci, dalam upaya memajukan bangsa. Satu dari delapan tesis laporan seminar Harvard yang sering kita kutip, yakni ”Culture Matters” adalah pendidikan yang maju sebagai kunci kemajuan Korea Selatan atas Ghana. Dalam buku Asia Hemisfer Baru Dunia karya Kishore Mahbubani gamblang disebut peranan pendidikan bagi kemajuan.

Untuk kita sendiri, peluang pemerataan pendidikan terbuka dengan pemanfaatan kemajuan teknologi. Program Palapa Ring yang bertujuan menyetarakan kemajuan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi antara Indonesia barat dan timur adalah salah satu bentuknya.

Kini, meski lulus dengan persentase tinggi, dari kawasan Indonesia timur masih timbul kerisauan tentang bagaimana bersaing dengan lulusan asal Jawa. Ini kerisauan yang harus kita pikirkan upaya mengatasinya. Sejumlah putra Indonesia timur, seperti dari Papua atau NTT, berhasil menunjukkan intelegensia tinggi, seperti unggul dalam olimpiade fisika. Tugas kita berikutnya, bagaimana kita menjadikan itu sebagai pola, bukan kasus.

Indonesia dewasa ini dihadapkan pada isu hypercomplexity. Hal ini menuntut tersedianya sumber daya insani unggul sebanyak-banyaknya dari berbagai penjuru. Hiperkompleksitas tak jarang menuntut kecakapan matematika untuk meresponsnya. Padahal, menurut berita, banyak ketidaklulusan UN disebabkan nilai matematika hanya dua. Ini tantangan yang perlu kita jawab karena matematika menjadi ilmu pengetahuan dasar bagi pengembangan sains dan teknologi yang dibutuhkan di era modern.

Mari kita jadikan pasca-UN sebagai momentum berbenah. Sebagai bangsa pembelajar, jangan lagi kita mendengar kabar serupa tahun depan, karena hakikat pembelajaran adalah dicapainya perbaikan, bukan pencapaian yang sama dengan kemarin, apalagi lebih buruk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s