Lady Gaga

Standar

Lady Gaga mendadak menjadi tokoh paling terkenal di republik ini dengan popularitas yang mungkin jauh lebih tinggi dibandingkan dengan para koruptor yang sedang diadili di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi atau para tersangka yang sedang diperiksa KPK. Jika diadakan survei, ia barangkali memperoleh persentase teratas melebihi nama-nama capres yang beredar saat ini.

Lady Gaga

Lady Gaga salah seorang ikon penyanyi global yang digilai ratusan juta penggemar. Tak banyak artis mampu mencapai kelas setingkat Lady Gaga, prestasi yang pada masa lalu pernah diraih artis macam Madonna dari Amerika Serikat atau Spice Girls dari Inggris.

Mereka adalah perempuan artis dengan vokal istimewa yang diminati produser kelas wahid dan label raksasa untuk ditarik ke dunia rekaman. Para promotor internasional dan lokal berebut mendatangkan mereka dalam tur ke mancanegara setelah singel atau album mereka meledak di pasar dunia.

Saat tur, mereka tampil dahsyat berkat produksi (tata suara dan cahaya, kostum, aksi panggung, vokal latar, koreografi, dan lain-lain) yang profesional dan mutakhir. Konser setiap artis yang berlangsung ratusan kali setiap tahun menjadi ritual yang mempertemukan artis dengan jutaan pemuja.

Konser kini menjadi andalan artis yang amat menguntungkan karena penjualan cakram menurun drastis akibat merajalelanya pembajakan lewat dunia maya.

Lebih dari 100 artis datang ke sini setiap tahun menyuguhkan konser yang harga tiketnya ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah. Adrie Subono dikenal sebagai promotor penjual tiket ”di bawah sejuta rupiah”; tiket David Foster ada yang harganya lebih dari Rp 20 juta.

Konser adalah bisnis yang menguntungkan tidak hanya bagi artis, promotor, pengusaha penyewaan peralatan konser, jasa pengamanan, atau media massa. Sektor informal kebagian berkah pula dari penjualan merchandise dan makanan/minuman. Begitu pula tukang parkir dan tukang catut.

Kini, bisnis konser juga mendapat perhatian dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pasalnya, banyak wisatawan dari negara-negara tetangga berkunjung ke Jakarta, Surabaya, atau Bali menyaksikan aksi artis-artis top.

Sebagian penggemar memilih menonton konser ke Singapura atau Australia karena artis menilai Indonesia kurang aman. Kini, situasi berbalik karena keamanan kita kondusif sehingga sebagian penonton kita tak lagi buang uang menambah devisa Australia atau Singapura.

Pelarangan Lady Gaga bisa melahirkan kembali persepsi keliru seolah Indonesia tidak aman dari ancaman radikalisme. Bisnis musik terancam melorot lagi seperti dulu ketika teroris merajalela.

Kini, artis-artis dari beragam generasi, mulai dari yang remaja semacam Justin Bieber sampai John Mayall yang hampir 70 tahun, berhasil menyihir Jakarta.

Tentu bangga sudah hampir setengah abad Indonesia dikenal sebagai tuan rumah konser musik yang aman dan nyaman. Lebih bangga lagi sudah banyak event tahunan dari berbagai genre musik, mulai dari jazz sampai blues, yang menjadi perhatian internasional.

Ritual konser merupakan fenomena yang berlangsung sejak awal abad ke-20 menyusul kelahiran blues di Mississippi, Amerika Serikat. Awalnya, ritual hanya melibatkan puluhan orang musik di kafe atau bar yang lama kelamaan berevolusi sampai ke stadion yang dapat menampung puluhan ribu penonton.

Dan, ritual ini bukan monopoli masyarakat Barat. Nusrat Fateh Ali Khan (Pakistan), Khaled (Aljazair), atau Umm Kulthum (Mesir) mampu ”menggoyang” ribuan penonton histeris.

Konser Rolling Stones di Pantai Copacabana, Rio de Janeiro, Brasil, beberapa tahun lalu, mencatat rekor ditonton hampir 2 juta orang. Konser Mick Jagger di Stadion Utama Senayan (sekarang Stadion Gelora Bung Karno) akhir 1980-an diwarnai pembakaran beberapa mobil.

Tak selamanya konser berjalan tertib dan aman, kadang meletup menjadi kerusuhan. Di republik ini pertandingan sepak bola, pilkada, pawai, diskusi buku, dan acara seni sudah sering rusuh.

Musik penghasil devisa dan alat promosi citra kita. Tiket konser artis-artis kita selalu sold out di Malaysia. Agnes Monica dan Anggun terkenal sampai ke mancanegara. Siapa pula di dunia ini yang tak kenal musik dangdut?

Pelarangan konser boleh dilakukan cuma oleh negara sebagai otoritas berwenang dan polisi hanya alat negara yang dibiayai rakyat—bukan alat kekuasaan yang dibiayai perorangan atau kelompok. Jika mau melarang konser Lady Gaga, mengapa tak diputuskan sejak tiketnya dijual Maret silam?

Lady Gaga bukan sembarang artis. Sejak usia balita ia belajar musik klasik dan sarjana bisnis pertunjukan. Ia ingin menjadi penampil revolusioner melawan dominasi lelaki dengan aksi panggung danfashion seronok.

Sayang, di Indonesia namanya diganti jadi Lady Gaga(l). Ini nama yang cocok untuk kita yang sudah dianggap sebagai negara gagal, yang dikendalikan penguasa yang semakin gagal menjaga kebinekaan. Toh, reformasi juga dinilai gagal, begitu pula demokrasi kita.

Betapapun tak ada yang berhak menggagalkan kita menikmati karya artis-artis pujaan, menyaksikan konser mereka di mana pun dan kapan pun. Saya justru iba kepada mereka yang gagal menikmati sekaligus mengapresiasi musik sebagai karya seni abadi.

Demi kebinekaan, konser Lady Gaga layak jalan terus dengan modifikasi, misalnya dengan kostum yang sopan. Polisi sebagai alat negara wajib menjaga keamanan konser—bisnis pertunjukan yang telah mengorbankan dana, tenaga, dan waktu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s