Gizi Buruk di Tengah Kampung Lumbung Pangan

Standar

Alimebung adalah sebuah desa yang letaknya berada di pinggiran Kota Kalabahi, ibu kota kabupaten Alor, atau jaraknya sekitar 10 kilometer dari jantung kota yang dijuluki Nusa Kenari tersebut. Kendati letaknya berada di pinggiran, namun Alimebung merupakan ibukota dari sebuah kecamatan di Kabupaten Alor, Kecamatan Alor Tengah Utara (ATU).

Mata pencaharian warga desa Alimebung beragam, ada pegawai negeri, wiraswasta, tukang, buruh, dan ada juga pedagang. Yang paling mendominasi atau 90 persen lebih warga Alimebung adalah petani. Usaha tani masyarakat di desa ini cukup maju, karena di dukung dengan lahan yang berada di dataran tanah datar dengan kondisi tanah yang subur, dan persedian air yang berlimpah. Infrastruktur irigasi-pun dibangun secara rapih, mulai dari hulu air hingga ke pintu-pintu air yang siap membagi ke lahan pertanian masyarakat.
Kondisi tanah yang subur dan didukung dengan topografi tanah yang datar ini, membuat petani di desa itu tidak hanya memanfaatkan lahan yang ada dengan menanam tanaman pertanian musiman, jagung dan padi sebagai makanan pokok, tetapi juga mengupayakan berbagai usahatani. Yang paling menonjol adalah masyarakat menanam berbagai jenis sayuran, mulai dari sawi, kangkung, kacang panjang, terung, pariak, paku, bayam, lombok dan tomat.

Setiap rumah tangga yang ada di desa itu – baik laki-laki maupun perempuan, semuanya mengusahakan tanaman sayuran. Sayuran yang ada bukan hanya untuk dikomsumsi sendiri setiap hari, tetapi juga di jual ke kota sebagai pendapatan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Tidak heran, kalau berkunjung ke pasar-pasar di kota kalabahi, baik Pasar Inpres atau Kadelang, sebagian besar pasokan sayur yang di jual di sana berasal dari desa Alimebung.

Petani di desa itu tidak semuanya menjual kepada papalele atau tengkulak yang langsung datang membeli di kebun, tetapi ada juga yang membawa sendiri sayurannya ke pasar dan menjualnya secara langsung. Biasanya jualan sayur ini dilakukan oleh ibu-ibu petani. Meski demikian ada juga satu dua petani laki-laki yang turut menjual sayur. Ada perbedaan cara menjual sayur ini antara laki-laki dan perempuan. Perempuan menjual sayur dengan membuka lapak di pasar, sementara pria biasanya memikul sayur dengan pelepah dibahunya, berkeliling dari lorong-lorong pemukiman masyarakat di kota kalabahi untuk menjual sayurnya.

Lukisan kehidupan petani di desa Alimebung menggambarkan bahwa ketersedian pangan masyarakat sangat mencukupi. Bahkan di luar stok pangan jagung dan padi hasil dari ladang, masih ada bantuan raskin dari pemerintah. Namun para petani di desa ini mempunyai pendapatan ekonomi tetap dengan mengandalkan hasil dari menjual sayur setiap hari.

Dari aspek gizi, kalau merujuk dari ketersedian pangan, baik dari unsur pemenuhan karbohidrat (jagung dan padi), vitamin (ada sayur-mayur yang lengkap), dan juga protein, potensi untuk kecukupan gizi sangatlah tinggi. Setidaknya tidak kurang persediaan pangan bergizi di tingkat masyarakat. Masyarakat memiliki peliharaan ayam (baik pedaging maupun petelur). Ikan segar juga tersedia, sebab posisi desa Alimebung tidak jauh dari laut, dekat dengan wilayah Maimol – pusat ikan di Kabupaten Alor.

Tak dinyana, meski masyarakat Alimebung hidup di tengah lumbung pangan, tetapi masalah kesehatan, khususnya menyangkut masalah gizi bagi anak-balita masih menjadi problem di desa ini. Kondisi balita yang mengalami masalah gizi ini, yang dikategorikan gizi buruk, misalnya, bisa ditemukan pada keluarga muda, pasangan Onisimus Manipada (24) dan Afliana Manipada (22). Keluarga muda ini tinggal di sebuah rumah semi permanen yang halamannya dikelilingi beragam tanaman sayuran. Keluarga petani yang memiliki lahan luas untuk tanaman sayur-sayuran ini memiliki seorang puteri, Yohana Jumina Manipada (1,9 th) yang tengah menderita gizi buruk. Hasil timbangan di posyandu terakhir (14/11/2009) berat badan Yohana hanya mencapai 8,7 kg. Padahal dengan usia seperti itu, berat badan Yohana mestinya sudah lebih dari 11 kg.

Apa penyebab Yohana menderita gizi buruk? Ibunya Afliana didampingi suaminya, Onisimus yang ditemui di kediaman mereka, di Desa Alimebung, Sabtu (2/1/2010) mengungkapkan, Yohana sejak bayi sudah mengalami masalah gizi. Kendati demikian, menurut mereka, Yohana tidak pernah menderita sakit serius. Menurut mereka, meski mereka hanya petani, tetapi makanan yang disiapkan bagi puteri mereka cukup lengkap dalam hal kandungan gizi. Untuk anak mereka, mereka sediakan susu, sayuran, dan juga telur. Tetapi, menurut Afliana, gairah makan dari anak mereka kurang. “Kita kasih makan telur, sayur, begitupun susu, Yohana tidak mau. Kita sudah berupaya dengan membujuknya, tetap tidak mau makan,”ungkap Afliana. Afliana mengungkapkan, kalau dirinya dan suaminya setiap hari bekerja keras dengan mengusahakan tanaman sayur untuk dijual agar uang yang mereka dapatkan bisa untuk membeli makanan bagi Yohana. Namun sayang, gairah makan anak mereka tetap rendah.

Ketika disinggung masalah makan anaknya apakah pernah di diskusikan dengan tenaga medis, Afliana mengatakan kalau hal itu belum dilakukan. Padahal biasanya setiap bulan mereka rajin membawa anaknya ke Posyandu. Di sana, kata mereka, selain dilakukan penimbangan juga ada pengarahan.

Nasib yang sama juga dialami keluarga Sam Selan (36) dan Aflinjo Malmau (20). Puteri semata wayang mereka, Wehelmina Selan (3), juga mengalami gizi buruk. Saya bertemu Sam Selan di rumah Ketua Kader Posyandu Melati, Desa Alimebung. Ia mengungkapkan, Wehelmina ketika lahir berat badannya 1,6 kg. Proses persalinan Welhelmina dibantu oleh bidan puskesmas. Berat badan Welhelmina naik-turun. Hingga usianya yang telah mencapai 3 tahun, berat badannya hanya 8,6 kg.

Menurut Sam, masalah terjadinya gizi buruk yang dialami Wehelmina akibat kurangnya gairah makan. Padahal, katanya, setiap hari dirinya bersama istri selalu mendampingi atau bersama anaknya. “Saya kerja sebagai tukang bangunan, jadi pekerjaan saya di dekat rumah saja. Tiap hari selalu berada di rumah dan kita terus membujuknya untuk makan, tetapi tidak ada nafsu makan,” ungkap Sam. Sam mengatakan, kendati puterinya mengalami gizi buruk, tetapi putrinya itu tidak pernah mengalami sakit serius. “Sakit yang dialami Wehelmina biasanya batuk-pilek atau demam,” tambah Sam yang masih hidup bersama istri dan anaknya disebuah rumah kontrakan semi permanen di desa Alimebung.

Sam menambahkan, kasus gizi yang dialami puterinya tersebut telah mendapat perhatian dari pemerintah. Meski baru sekali tetapi pemerintah telah memberikan bantuan makanan buat anaknya dalam bentuk Bubur SUN.

Masalah kasus gizi ini juga dialami keluarga Markus Maure (Alm) dan Orpha Maure (38). Putra bungsu mereka dari lima bersaudara, Ade Markus Maure (1,8) menderita gizi kurang. Orpha yang ditemui di bedeng sayurnya di desa Alimebung mengatakan, anaknya sejak lahir mengalami kasus gizi.

Penyebabnya, kata Orpha, mungkin akibat kurang perhatian dari dirinya. Sebab, ungkap Orpha, setiap hari dari pagi hingga petang dia bekerja menyiapkan sayur di ladang yang akan dibawa ke pasar. Pendapatan mereka – yang digunakan untuk menopang kehidupan sehari-hari – bergantung pada hasil penjualan sayur. “Kalau saya pergi berjualan di pasar, maka Ade ditinggalkan pada kakak-kakanya untuk menjaga,”ungkap Orpha.

Terkait dengan masalah gizi yang dialami sejumlah anak-balita di desa Alimebung, data yang dihimpun dari Ketua Kader Posyandu Melati desa Alimebung, Lodia Mapada, di kediamannya, Sabtu (2/1/2010) menjelaskan, dari 70 balita yang ditangani posyandunya ada empat balita yang mengalami gizi buruk, dan belasan lainnya mengalami masalah gizi kurang.

Lodia mengatakan, penyebab masalah gizi dari setiap balita di desa itu bermacam-macam. Menurut Lodia, seperti keluarga Onisimus dan Orpha Maure, dari pengamatannya, anak mereka kurang mendapat perhatian. Ini terjadi akibat kesibukan mereka dalam berladang dan mencari penghasilan. “Masyarakat disini umumnya petani sayur, jadi suami-istri setiap harinya menyiapkan sayur atau sibuk diladang, setelah itu bawa ke pasar untuk jual. Anak mereka ditinggalkan di rumah. Akhirnya makanan anak kurang diperhatikkan,”ungkap Lodia.

Akibat lainnya, kata Lodia, masalah makanan yang diberikan kepada anak kurang atau tidak memiliki nilai gizi. “Kita tahu bahwa daerah ini adalah daerah sayur, begitupun daging atau ikan segar ada. Tetapi masih menjadi pertanyaan, apakah pengolahan makanan yang diberikan kepada anak sudah mengandung nilai gizi atau tidak,”ungkap Lodia.

Menurut Lodia, berdasarkan pengamatannya, masyarakat di desa ini belum terbiasa dan juga belum memiliki ketrampilan untuk mengolah makanan sehingga punya nilai gizi tinggi. Padahal bahan makanan yang punya nilai gizi tinggi tersedia. “Kalau mau omong susu, masyarakat disini walaupun petani bisa beli susu. Setiap hari sayur yang dijual mereka, bisa menghasilkan Rp 30.000 hingga Rp 60.000. Jadi sangat sanggup. Tetapi bagaimana membiasakan anak untuk minum susu?”tandas Lodia.
Lodia juga menyampaikan, Posyandu di desanya telah mendapat perhatian dari pemerintah dan juga LSM, salah satunya adalah ADP (WVI) . Mereka memberikan bantuan alat ukur tinggi badan dan berat badan. Menurut ketua kader Posyandu itu, penyuluhan dari petugas kesehatan kepada ibu-ibu perlu gencar dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s