‘Membiasakan Kebenaran, bukan Membenarkan Kebiasaan!’

Standar

Sri Palupi

Kalimat bijak di atas diucapkan seorang bapak, Yie Gae Tjie namanya. Ia pemilik galeri di kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Di luar kota Maumere, nama Yie – begitu ia menuliskan namanya – barangkali tidak banyak dikenal. Namun siapa sangka kalau sosok etnis Cina kelahiran Maumere ini sesungguhnya adalah pejuang hak asasi.

Di galerinya yang menjual barang-barang seni dan tenun ikat itu untuk pertama kalinya saya mengenal Pak Yie. Kulit putih dan mata sipitnya yang tipikal etnis Cina membuat saya berpikir, ternyata ada juga orang Cina di Flores ini yang mau mengembangkan tenun ikat. Hal yang tidak biasa menurut pandangan saya. Maklumlah, kepala saya yang kecil ini masih belum sepenuhnya terbebas dari stereotip tentang orang Cina.

Ketika akan kembali ke Jakarta, saya sempatkan mampir ke galeri Pak Yie. Bukan untuk membeli kain tenun koleksinya, tetapi untuk bertanya satu hal saja: Apa yang membuatnya tertarik mengembangkan tenun ikat? Ternyata jawaban atas satu pertanyaan itu jauh mengalir dan membuat saya berkesimpulan, Pak Yie seorang pejuang hak asasi dengan keberanian yang jarang dimiliki orang-orang Cina pada umumnya. Kenapa saya menyebutnya demikian?

Simaklah kisahnya berikut ini.


Merindukan Pembauran

«Saya lahir di Maumere, 15 Oktober 1954.» Begitulah Pak Yie mengawali ceritanya. «Meski lahir dan besar di Maumere, tapi baru pada tahun 1997 saya memperoleh kewarganegaraan Indonesia. Saya terlambat mendapatkannya karena saya tidak mau memperoleh sesuatu dengan cara memperjualbelikan kebenaran. Selama ini banyak warga keturunan Cina yang mendapatkan kewarganegaraan dengan cara-cara yang memperjualbelikan kebenaran.

Pada tahun 1997 pemerintah bekerjasama dengan Bakom PKB membuat program naturalisasi, di mana penduduk kelahiran Indonesia yang masih berstatus WNA bisa memperoleh kewarganegaraan Indonesia. Pada saat itu diumumkan, pengurusan kewarganegaraan tidak dikenai biaya. Namun pada kenyataannya mereka yang mengurus kewarganegaraan dikenai biaya Rp 400.000–500.000.

Ketika saya datang ke imigrasi untuk mengurus dokumen, saya dikenai biaya Rp320.000. Padahal saya sudah menyerahkan seluruh dokumen untuk mengurus kewarganegaraan tujuh tahun lalu (1990-an). Saya katakan pada mereka, tujuh tahun lalu saya sudah serahkan seluruh dokumen untuk urus kewarganegaraan.

Namun pihak imigrasi mengatakan, dokumen saya tidak ditemukan. Mereka sudah urus ke Kupang dan mereka tidak temukan dokumen saya. Saya diminta mengurus kembali dari awal. Saya menolak saran mereka dan mereka marah.

‘Oh jadi Bapak tidak mau menjadi warga negara Indonesia?’ kata mereka. Saat itu saya menjawab santai, hanya orang gila, Pak, yang datang dan tinggal di Indonesia tapi tidak mau jadi warga negara Indonesia. Di situlah kami berdebat. Saya menentang semua yang mereka sarankan dan saya tidak mau memenuhi nafsu mereka yang hendak memperjualbelikan kebenaran.

Pada saat itu kebetulan ada wartawan Kompas dan wartawan dari media lokal. Saya sampaikan pada mereka, pihak imigrasi mempersulit 20-an warga keturunan Cina yang mengurus naturalisasi. Setelah berita diturunkan, warga keturunan Cina yang tengah mengurus naturalisasi itu datang pada saya. Mereka takut akan mendapat kesulitan terkait dengan pemberitaan itu.

Orang imigrasi telepon saya dan menanyakan apakah saya yang melaporkan ke media. Saya mengatakan, memang saya yang melaporkan ke wartawan. Rupanya pihak imigrasi ketakutan dengan adanya berita itu sebab esoknya akan ada kunjungan dari imigrasi pusat. Berkat pemberitaan itu, akhirnya saya memperoleh kewarganegaraan.

Ketika mengurus kewarganegaraan, pihak imigrasi menanyakan apakah saya akan ganti nama. Saya katakan tidak. Saya tidak akan pernah ganti nama karena bagi saya nama tidak menentukan kualitas seseorang menjadi anak bangsa.

Saya sendiri mulai memahami adanya masalah antara orang Indonesia asli dengan warga keturunan Cina ketika saya mulai bisa membaca. Sejak saat itu saya memahami, ada masalah dengan perbedaan warna kulit. Menyedihkan, orang tidak bisa membaur hanya karena beda warna kulit. Kasihan sekali bangsa kita ini.

Masih banyak orang asli yang punya sikap anti Cina, dan sebaliknya masih banyak orang Cina yang tidak suka pada orang asli. Entah siapa yang dulu memelopori adanya sikap permusuhan semacam ini. Yang kasihan anak-anak di kedua belah pihak, pasti akan jadi korban.

Saya sendiri waktu kecil pernah mengalami, bila bertemu dengan anak-anak lokal sering dikata-katain, ‘Cina lo lèng, mati digorèng!’ Anak-anak Cina kalau dikatain begitu biasanya tidak peduli. Kalau saya jenisnya lain. Kalau saya diganggu, saya tidak mau terima dan terjadilah perkelahian. Makanya di lingkungan orang-orang Cina, saya ini dikatakan brutal, mirip orang lokal.

Saya sendiri tidak punya sikap membeda-bedakan warna kulit. Dari kecil saya sudah merasa, sikap seperti itu tidak b

enar. Makanya kalau ada orang yang punya masalah, saya pasti menolong, tidak peduli apakah dia itu orang Cina atau orang lokal.

Saya sendiri mewarnai hidup saya dengan kerinduan untuk menyuarakan pembauran. Makanya orang-orang lokal kalau ditanya tentang saya, mereka akan bilang kalau Pak Yie itu bukan orang Cina. Kulitnya saja yang Cina, tapi dia orang Indonesia.

Kasus Pemerasan

Pada tahun 2005, di Maumere terjadi kasus pemerasan terhadap beberapa pedagang Cina. Ada lima pedagang Cina yang dituduh menjual makanan kadaluwarsa. Tanpa ada proses pembuktian yang jelas, polisi tiba-tiba menangkap mereka dan memasukkannya ke sel.

Saya menjenguk mereka di sel. Ketika saya datang, Polisi tanyakan keperluan saya. Saya katakan kalau saya mau menjenguk dan membawakan air putih buat saudara saya yang ada di sel. Polisi tidak mengijinkan saya masuk. Saya bilang, kalau saudara saya itu biasa setiap pagi minum air putih dan saya merasa punya kewajiban untuk membawakan dia air putih. Kalau bapak tidak mengijinkan saya membawakan dia air putih, berarti polisi melanggar hak asasi kemanusiaan. Kemudian polisi itu melapor ke komandan jaga dan saya diijinkan masuk.

Dari para pedagang yang disel itu saya tahu, polisi akan membebaskan mereka kalau mereka bersedia bayar Rp 85 juta. Kelima pedagang itu bersepakat mengumpulkan uang untuk penuhi tuntutan polisi. Mereka memang dibebaskan setelah bayar Rp 85 juta pada polisi. Waktu itu saya dipesan oleh para pedagang itu untuk tidak menyampaikan masalah pemerasan ini pada wartawan. Saya tanya, kenapa? Mereka bilang , ‘Kami masih mau tinggal di Maumere.’ Spontan saya berteriak, ‘Kurang ajar! Apakah Maumere ini punya Kapolres. Kapolres itu orang baru. Dia baru pindah ke sini. Sementara kamu lahir dan besar di sini, kenapa takut?!’

Saya berkeliling Maumere dan saya sampaikan pada orang-orang di Maumere, para pedagang Cina itu diperas polisi. Akhirnya berita pemerasan itu tersebar di Maumere. Saat berita itu tersebar, tersiar kabar Kapolda memerintahkan untuk menangkap kelima pedagang itu. Para pedagang itu cemas kalau-kalau mereka akan ditangkap kembali. Saya katakan pada mereka untuk tidak perlu cemas. Berita tentang penangkapan itu justru menandakan, Kapolda sebenarnya ketakutan.

Saya memang menceritakan kasus pemerasan itu pada wartawan, yang kemudian menuliskan dan mengirimkannya ke Media Indonesia. Esok malamnya, salah satu pedagang korban pemerasan itu membawa kabar, kasus mereka sudah dimuat di media Indonesia. Saya baca dalam berita itu Kapolres menyanggah. Dia bilang, tidak benar itu. Polisi tidak pernah memeras Rp85 juta. Yang benar, Kapolres melakukan pembinaan pada para pedagang itu dan mereka telah dibebaskan. Kapolres ini tidak benar, kata saya. Saya baca Pos Kupang, memuat juga bantahan Kapolres. Bahkan Kapolres menyatakan, dirinya siap mempertaruhkan jabatannya. Saya terusik dengan pernyataan Kapolres itu.

Kemudian saya tulis apa yang muncul di pikiran saya saat itu:


“Jangan pernah mengganggu polisi, yang siang malam menjaga kita agar hidup tenang, nyaman dan damai. Yang terhormat pak Kapolres Sikka, kalau sampai ada yang melakukan itu sebaiknya diproses hukum. Dan juga yang saya hormati Kapolda di Kupang, jangan hanya mendengarkan bawahanmu saja. Dengarkan juga rintihan kelima pedagang di Maumere.


Yang mulia Kapolri di Jakarta, ‘kita mesti telanjang dan benar-benar bersih.’ Kita mesti bahu membahu membebaskan mereka yang sepanjang hidupnya makan angan-angan, minum mimpi-mimpi. Terima kasih mas Ebiet G. Ade dan Taufik Ismail, sang pujangga.”


Saya ketik tulisan saya itu dan saya bawa ke Flores Pos. Awalnya mereka tidak mau muat. Saya bilang, yah, ‘anda hanya tahu kepala berita dan ekor berita, tapi anda tidak tahu meracik puisi untuk menjadi berita dan lain-lain,’ kata saya. Akhirnya Flores Pos bersedia memuat tulisan saya.

Saya copy tulisan itu beribu-ribu lembar dan saya jalan kaki keliling Maumere. Saya keliling dari pintu ke pintu untuk membagikan tulisan itu. Kodim saya kasih, polres saya kasih, juga kejaksaan dan pengadilan. DPR saya masuki, saya juga keluar masuk pasar dan kantor-kantor untuk menyebarkan tulisan itu. Sendirian saya lakukan itu. Hari ini tulisan saya sebarkan, esoknya tulisan itu muncul di Flores Pos. Lusanya staf dari kapolda datang ke Maumere.

Pedagang yang jadi korban pemerasan itu datang memberi kabar, besok malam orang dari kapolda hendak bertemu mereka. Saya bilang ke dia, kalau pertemuannya jangan di rumah kamu. Saya khawatir ketika orang Kapolda itu lihat kamu punya rumah bagus, punya barang-barang bagus, akan timbul pikiran lain pada diri mereka. Akhirnya pertemuan dengan tim Kapolda diadakan di rumah seorang anggota DPRD. Dalam pertemuan itu orang Kapolda menyatakan pembelaannya pada para pedagang korban pemerasan itu. Tapi di depan orang Kapolda itu saya mengatakan, ‘Di depan kami Bapak ngomong manis seolah-olah membela kami. Padahal Bapak ada di dalam sistem, Bapak pasti membela institusi. Meski saya belum tahu, pak, tapi pengalaman membuat saya yakin itu pasti terjadi. Di belakang kami Bapak akan berbalik membela institusi.”

Ketika kasus pemerasan itu mencuat ke publik, ada anggota DPR yang memberikan komentar, Kapolres salah tangkap. Menurutnya, penangkapan yang dilakukan polisi itu tidak sesuai tupoksi (tugas pokok dan fungsi). Membaca komentar itu saya kemudian menulis puisi lagi:


‘Kami, rakyat, bingung. Kapolres bilang, kewenangan dia untuk menangkap. Bapak anggota DPR, seorang yang di saat banyak orang takut berbisik di negeri ini, bapak berani bersuara lantang. Tapi bapak mengatakan tidak sesuai tupoksi. Tolong bapak DPR duduk bersama Kapolri di depan rakyat, menjelaskan kepada kami bahwa sesungguhnya siapa yang benar’.

Puisi itu saya copy ribuan lembar dan saya pergi lagi ke masyarakat untuk bagi-bagikan puisi itu.

Orang-orang menilai saya orang nekat, karena mereka melihat saya sendirian keliling Maumere membagi-bagikan pemikiran. Mendengar penilaian itu, saya hanya berucap dalam hati, ‘Tuhan, engkau bersama saya. Kadang-kadang tembok besar bisa dirasuki oleh akar rumput yang bisa meretakkan tembok. Dan sayalah akar rumputmu itu.’

Dan saya kerjakan betul-betul apa yang saya ucapkan dalam hati itu. Sampai dengan tahun 2006 belum ada proses terhadap masalah pemerasan itu. Saya menulis surat terbuka untuk Kapolri dan saya kirimkan ke media lokal. Lalu saya didatangi orang-orang yang berkomentar begini, ‘Karena ada orang Cina punya masalah, kamu bela mati orang Cina itu.’

Saya katakan pada mereka, saya bukan orang Cina. Tidak ada orang Cina lagi di sini. Kalau ada siapa saja orang yang dideritakan, sepantasnya kita bersuara, termasuk kalian-kalian yang berkotbah. Maaf kalau saya melukai kamu. Tapi sesungguhnya dalam beriman, kepercayaan apa pun, semua kita menyuarakan kebenaran. Tapi orang-orang pikir saya ini apa. Orang pikir saya ini orang bangkrut, makanya saya buat begini. Tapi saya tetap kerja terus, tak peduli omongan orang.

Sebulan setelah saya membuat surat terbuka kepada Kapolri, sang kapolres kemudian dipindahkan. Saya tidak tahu, apakah pemindahan ini ada kaitannya dengan surat terbuka saya.

‘Kupon Putih’

Pada saat Bapak Sutanto menjadi Kapolri, langsung terjadi pembasmian judi besar-besaran, termasuk di Maumere. Mereka yang terlibat perjudian, termasuk judi dengan ‘Kupon Putih’ (KP) alias togèl, masuk penjara. Maumere kemudian bebas dari KP.

Saya terinspirasi oleh istilah ‘Kupon Putih’ atau KP yang sudah akrab di telinga orang-orang Maumere. Saya pakai istilah itu untuk membuat tulisan berdasarkan pemikiran-pemikiran sederhana. Tulisan itu kemudian saya beri judul KP. Isinya, renungan sederhana dengan judul-judul yang saya plesetkan dari “Kupon Putih” (KP) alias togèl, seperti: Kekayaan Percuma, Kujual Pikiran, Kujual Pertanyaan, Kusampaikan Pesan, Kubuat Pernyataan, Kubuka Penglihatan, Kuintip Peristiwa, dll.

Setiap hari saya bikin KP, saya copy dan saya bawa di saku saya. Tiap kali saya ketemu dengan siapa pun, saya bagi itu KP. Saya pakai KP sebagai judul renungan untuk mengingatkan, janganlah makan dari hasil KP (Kerja Peras), tetapi makanlah dari hasil Kerja Keras. Selain menyampaikan pemikiran, tulisan di atas kertas putih itu juga pernah saya pakai untuk menolong anak-anak.

Suatu hari ada anak-anak yang datang pada saya. Mereka tidak bisa membeli buku sekolah. Kemudian saya bikin KP berjudul ‘Rp 1000 untuk Sahabat’. Saya bawa anak-anak yang tidak bisa beli buku itu untuk ikut jalan bersama saya. Pada setiap orang yang saya jumpai, saya bagikan KP dan saya minta mereka memberikan Rp1000 pada anak-anak itu untuk membeli buku. Dengan cara itu terkumpul cukup banyak uang untuk anak-anak itu bisa membeli buku sekolah.

Buruh Tambang

Sejauh ini tidak ada yang mau bergabung dengan saya. Hanya beberapa saat ini ada beberapa orang yang mulai bergabung dengan saya. Kami membentuk komunitas peduli kehidupan. Salah satu kepedulian kami adalah soal penambangan pasir, yang terbukti telah melahirkan bencana. Empat tahun lalu terjadi kasus, di mana dua buruh tambang pasir mati tertimbun tanah. Kematian itu tidak diproses karena dianggap murni kecelakaan. Saya menulis masalah ini dan saya kirim ke media lokal. Pemred media lokal kemudian mengirimkan wartawannya untuk menemui saya. Saya mengatakan pada wartawan itu agar penambangan pasir dihentikan.

Banyak orang menganggap kematian dua orang buruh itu wajar karena kecelakaan. Saya selalu mengatakan tidak. Jiwa mereka ada yang membunuh, yaitu mereka yang menyisakan tebing-tebing curam yang kemudian runtuh dan membuat mereka mati. Banyak orang tahu tentang kasus ini tapi mengabaikannya. Padahal meninggalnya dua buruh angkut pasir itu menyisakan penderitaan yang berkepanjangan bagi keluarga mereka.

Orang-orang berkomentar, begitu banyak orang menderita, buat apa repot dengan orang mati. Menanggapi komentar itu saya hanya bilang, ‘Ya Tuhan, hanya Engkau yang mengerti. Engkau tolong hibur saya saja.’

Parah sekali memang cara mereka memandang persoalan. Tapi saya tidak berputus asa. Yang penting saya murni, saya merasakan sependeritaan dengan sesama saya. Saya tertawa bersama orang-orang di sekitar saya dan saya pun menangis bersama orang-orang di sekitar saya. Mereka anggap saya ini kurang kerja. Buruh kasar mati, saya ikut repot.

Sekali lagi mereka menyangka saya ini bangkrut, karena saat itu saya jual motor. Padahal motor saya jual karena saya ingin sehat. Kalau mau sehat ya harus jalan kaki. Tapi biarlah orang salah sangka kalau saya bangkrut. Dengan begitu, saya bisa bebas bergerak.’

Menangkap Air Hujan

Selain mengurus galeri, kesibukan saya beberapa tahun terakhir ini adalah memasukkan air sebanyak-banyaknya ke dalam perut bumi. Itu saya mulai dengan menggali lubang-lubang seluas 1 X 2 meter persegi di bukit seluas dua hektar. Sekarang di lahan seluas dua hektar itu kalau sekali hujan lebat, setidaknya ada 100.000 liter air masuk ke dalam tanah. Tidak ada lagi air yang tergenang ke jalan-jalan seperti dulu.

Dulu, di lahan ini jagung saja tidak bisa ditanam. Sudah hampir dua tahun ini saya coba tanami lahan ini dengan pisang. Saya mau tunjukkan, di tanah yang jagung saja tidak bisa ditanam masih bisa tumbuh sesuatu. Di tanah itu juga saya menanam mété. Kadang-kadang saya berbicara pada pohon mété, ‘Katanya kau rusak tanah ya. Tapi jangan marah kau ya. Di dekatmu sudah kubuat lubang-lubang untuk kau bisa hidup. Biar Tuhan yang jaga kau.’ Tahun ini mété sudah mulai berbuah. Apabila terbukti benar bahwa di sekitar mété yang diberi lubang-lubang air itu mété bisa tumbuh bagus, saya akan ajak orang-orang untuk lihat dan praktikkan.

Di bukit yang sama, saya buat juga beberapa kolam. Fungsinya untuk kasih minum burung-burung liar di saat musim kering dan juga untuk menyiram tanaman. Pada musim kemarau, kolam-kolam kering dan saya isi dengan air dari mobil tanki.

Mulai tahun lalu, saya mengunjungi orang-orang di kampung-kampung tertentu untuk mengajak mereka menggali lubang penangkap air. Sekarang saya sudah tidak lagi kerja sendirian. Anggota komunitas kehidupan sudah mulai ikut, mulai bersimpati, dan kami mulai gali lubang di tempat-tempat lain. Satu persatu orang mulai tertarik. Memang agak sulit mengajak orang, tapi pelan-pelan saja saya mengajak mereka. Kami dekati dulu pemilik tanahnya. Kalau mereka sudah OK, saya kumpulkan uang dari mana-mana dan saya kumpulkan anak-anak mudanya. Anak-anak muda itulah yang gali lubang, dan kami kasih mereka uang dengan hitungan per lubang.

Mengapa pakai pendekatan dengan membayar mereka? Kalau kita harap inisiatif orang untuk gali lubang, masih sulit. Sebab mereka masih belum bisa paham untuk apa lubang-lubang itu. Nanti kalau mereka sudah melihat hasilnya dan merasakan manfaatnya, orang akan tergerak dengan sendirinya. Kalau semakin banyak lubang kita bisa gali, akan ada sekian juta liter air yang masuk ke dalam tanah dan tidak lagi terbuang ke laut. Ini sudah saya buktikan dengan bukit yang pertama saya gali itu. Sebelum ada lubang-lubang di bukit itu, bila hujan lebat air selalu tergenang ke jalan. Kini di musim hujan hampir tidak ada lagi air yang terbuang ke jalan. Semua sudah masuk lubang. Kalaupun ada air yang tergenang, saya akan ambil air itu dan saya masukkan ke lubang.

Usaha Tenun Ikat

Saya suka sekali dengan tenun ikat. Bahkan sejak tahun 1970 saya sudah memakai tenun ikat. Setiap hari saya pakai celana pendek dari bahan tenun ikat. Selagi remaja, di Bandung dan Yogyakarta, saya sudah mengembangkan ketrampilan merancang busana.

Dulu saya ada usaha cottage di Pagal, sekarang saya hanya hidup dari galeri ini. Galeri berdiri sejak sebelum gempa. Waktu itu kami sangat susah, tidak punya apa-apa. Saya jadi sopir taksi, antar tamu-tamu ke bandara. Sebelum berangkat saya selalu ada taruh di mobil tenun ikat koleksi saya. Orang membeli satu-satu.

Pasar tenun ikat waktu itu sudah mulai baik. Saya ke pasar bertemu dengan orang-orang kampung yang saya kenal sangat baik itu dan mulai beli kain mereka satu-satu. Lama-lama mereka mulai datang antar itu kain. Tapi waktu itu uang tidak ada. Jadi saya tawarkan ke mereka untuk konsinyasi saja, karena saya tak ada uang. Mereka percaya, lalu saya mulai kembangkan usaha tenun ikat ini.

Sebelum pindah ke galeri ini saya ada toko di bawah. Usaha mulai baik, ada teman dari Sumba datang antar kain. Waktu gempa tahun 1992, orang pikir usaha saya habis lagi. Tapi waktu itu saya masih bisa dapat kain dan harga jualnya juga bagus. Termasuk kami dapat pesanan dari Asosiasi Perstekstilan Indonesia untuk cindera mata.

Sesudah gempa itu, saya datang cari orang-orang di kampung. Jatuhlah air mata mereka melihat saya datang bawa uang. Mereka pikir semuanya hancur oleh gempa, jadi mereka tidak berharap kain-kain mereka akan terbayar. Saya bilang, kain-kain kamu sudah saya jual. Bahkan harga untuk kain kamu saya bayar dua kali lipat. Konsinyasi tetap berlanjut dan kami lebih bersemangat.

Kami sendiri senang dengan usaha tenun ikat. Tenun ikat membuat kami bekerja dengan orang-orang sederhana. Kami menjembatani mereka dengan para konsumen. Ada sedikitnya 600 pengrajin dari seluruh wilayah Sikka yang bekersama dengan kami. Ada juga saudara angkat saya dari Jerman, dia peminat tenun ikat juga. Dia turut membantu mendapatkan benang.»

Titik Balik

Darimana Pak Yie bisa memiliki sikap dan jalan hidup seperti itu? Dilihat dari pendidikannya, Ia hanya lulusan SD, meski kecerdasan dan kemampuan berbahasa Inggrisnya tidak kalah dengan lulusan perguruan tinggi. Dilihat dari kekayaannya, bahkan rumah pun ia tidak punya.

Sikap hidup Pak Yie yang begitu peduli pada kehidupan dan hak asasi, tidaklah muncul begitu saja. Ada peristiwa sebelumnya yang mengubah sikap dan jalan hidupnya. Ini bermula dari kematian mama yang benar-benar menjadi pukulan berat bagi Pak Yie. Dengan berat Pak Yie mengungkap masa lalunya, demikian:

«Saya dilahirkan sebagai anak kedua dari lima bersaudara. Papa saya sudah lama meninggal dan mama sendirian mengurus lima anak. Waktu mama saya masih hidup, saya berdagang. Mama saya bilang, ‘Kamu harus berdagang. Kalau tidak berdagang, kamu tidak ada uang’. Kasihan mama saya. Karena mama suruh saya berdagang, maka berdaganglah saya. Saat itu saya tidak ada uang. Kebetulan ada teman sekolah saya, seorang Madura, punya rumah mau dikontrakkan. Saya kontrak rumah itu dan saya berdagang. Akhirnya saya berhasil membeli tanah dan membantu saudara-saudara. Mama saya senang.

Pada tahun 1986 mama saya meninggal tiba-tiba, hanya karena ada saudara yang datang ke rumah dan mengatakan, kalau saja anak-anak mama bersatu pasti akan makin kuat. Waktu itu memang ada masalah antara saya dengan kakak yang menjadi sangat materialis setelah menikah dengan sesama etnis Cina dari kalangan keluarga berada. Mereka punya pandangan, ‘Kalau engkau tidak punya apa-apa engkau tidak akan dipandang siapa pun.’ Mama sedih, karena anaknya begitu lekat pada materi. Waktu itu saya hanya bilang sama mama begini: ‘Mama, engkau yang suruh aku jadi orang berduit. Tetapi mengapa ketika engkau melihat anakmu begitu lekat dengan materi engkau jadi sakit hati?’

Sejak mama meninggal saya sudah tidak punya semangat lagi untuk mencari uang. Orang-orang pikir saya bangkrut. Memang saya bangkrut karena semua tanah diambil alih kakak saya. Padahal tanah itu saya beli dengan uang saya. Saya sebenarnya bisa gugat mereka, tapi saya tidak mau lakukan itu. Saya sudah ikhlaskan. Saya tidak menuntut mereka. Termasuk ketika kakak saya menyuruh anak buahnya untuk menyerang saya yang dianggap menjadi penghalang mereka, saya tidak membawa kasus ini ke polisi.

Sebelum mama meninggal, saya sudah dianggap tidak ada oleh semua saudara karena saya akan memperistri gadis pribumi. Mereka menyingkirkan saya. Ada yang memahami saya tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tahun 1987 saya menikah dengan seorang gadis Jawa kelahiran Malang yang besar di Maumere.

Waktu itu saya sempat berkecil hati, karena mama sudah tidak ada dan saya tidak bekerja. Tapi saya punya istri baik sekali. Dia mengerti dengan keadaan saya dan tidak menuntut apa-apa. Waktu itu saya punya banyak sekali koleksi barang seni. Sedikit demi sedikit industri pariwisata menggeliat. Jadi saya jual barang-barang seni koleksi saya, termasuk tenun ikat. Beginilah kehidupan saya. Tidak punya kekayaan materi dan bahkan tidak punya rumah. Rumah yang saya tempati ini milik bapak permandian saya. Bapak ini orang pribumi. Tapi, maaf, saya tidak setuju dengan istilah pribumi dan non-pribumi.

Melihat apa yang sudah saya buat, orang-orang Cina di Maumere ini sering bertanya, apakah saya ini tidak takut. Saya bilang, saya tidak takut. Saya dilahirkan untuk menyuarakan kebenaran, untuk membiasakan kebenaran, bukan membenarkan kebiasaan.

Saya tahu, dari antara mereka tidak ada yang mendukung saya. Kalau apa yang saya lakukan menguntungkan mereka, mereka berkumpul. Tapi kalau ada kesulitan menghadang saya, mereka semua lari. Tapi saya tidak sakit hati, tidak juga cemas. Saya punya sandaran, yaitu Dia yang paling benar. Saya belajar mencintai kebenaran dan membagi kebenaran yang saya dapat. Saya tidak mungkin menjadi sempurna, karena saya manusia biasa. Setidaknya saya bisa mencintai kebenaran dan berlari di jalan kebenaran. Resiko memang banyak, tapi saya siap menanggungnya, bahkan yang terburuk sekalipun.

Pernah saya diacungi pistol oleh polisi, yang mengancam akan menembak saya. ‘Kamu Cina khan, jangan macam-macam!’ katanya. Saya bilang, maaf, Pak, saya bukan Cina. Bapak pikir kalau Cina digertak pasti akan gemetar tho? Bapak keliru besar, saya tidak gentar kalaupun Bapak tembak. Senjata yang Bapak pakai itu rakyat yang beli, kenapa Bapak begitu sombong. Bukan saya tidak punya rasa takut, Pak. Tapi dalam hal begini saya tidak gentar.»***

3 pemikiran pada “‘Membiasakan Kebenaran, bukan Membenarkan Kebiasaan!’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s