Buruh Migran (Perempuan) Rentan terhadap HIV/AIDS

Standar

Josephine

Sudah tak sedikit pekerja migran kita yang terjangkit virus HIV/AIDS. Karena kerentanan setiap tahapan migrasi, jumlah para penderita tetap tinggi. Apa yang bisa kita lakukan untuk para pahlawan devisa ini?

Berapa Buruh Migran Terjangkit HIV/AIDS sejak 1993??

  • Tahun 1993-1998: ditemukan tiga orang TKI yang bekerja di Brunei Darussalam yang terinfeksi HIV/AIDS, 2 di antaranya perempuan,Tahun 2003: tercatat 69 calon TKI (24 laki-laki dan 45 perempuan) yang tak jadi berangkat karena terinfeksi HIV (Data YPI, 2003),
  • Tahun 2004: Dari 233.626 calon TKI tujuan Timur Tengah yang melakukan tes kesehatan, teridentifikasi 203 (0.087%) positif HIV/AIDS,
  • Tahun 2005: dari 145.298 calon TKI tujuan Timur Tengah yang melakukan tes kesehatan, teridentifikasi 131 (0.09%) positif HIV/AIDS,
  • Kasus di Filipina: 28% orang dengan HIV/AIDS.

Kolega The Institute for Ecosoc Rights, Josephine dari Yogyakarta, membagikan oleh-oleh informasi untuk kita setelah menghadiri pelatihan fasilitator bertajuk “Informasi HIV/AIDS bagi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)/Solidaritas Perempuan(SP)/Serikat Buruh(SB)” di Bogor, 11-14 September 2006.HIV dan Buruh Migran

Banyaknya para korban virus pelemah ketahanan tubuh ini menunjukkan semakin cepatnya perubahan zaman. Sekarang banyak perempuan yang bermigrasi untuk mencari pekerjaan di mana mereka dibayar lebih baik dibandingkan negara asal mereka. Diperkirakan saat ini para migran perempuan mengisi hampir separuh pekerja migran di seluruh dunia. Proses migrasi yang menentukan ”pilihan” pekerjaan terhadap perempuan meliputi pekerjaan reproduktif (pekerjaan rumah tangga dan hiburan) menjadikan mereka rentan, karena pada sektor tersebut berada di luar cakupan perlindungan hukum dalam pekerjaan terutama Kode Undang-Undang Perburuhan.

Untuk menggambarkan pentingnya migran perempuan dalam pekerjaan rumah tangga, beberapa angka dikutip di sini. Tahun 2000 di Hongkong pekerja rumah tangga migran berjumlah lebih dari 202.900. Antara 1999 s.d. Juni 2001, 691.285 perempuan Indonesia meninggalkan negaranya (angka ini menggambarkan 72% dari total migran yang berasal dari Indonesia) sebagai pekerja rumah tangga.

Akibat kemiskinan, fakta menunjukkan bahwa semakin banyak perempuan menjadi pencari nafkah satu-satunya dalam keluarga mereka. Hal ini menyebabkan naiknya jumlah perempuan yang dengan senang hati mengambil kesempatan untuk mencari nafkah di luar negeri.

Penyebaran virus

Sejak awal 1980an, HIV telah menginfeksi lebih dari 60 juta orang. Masih banyak orang yang memiliki pemahaman yang keliru tentang HIV/AIDS. HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Dia menyerang sel darah putih yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh manusia. Sedangkan AIDS diartikan sebagai suatu kumpulan gejala penyakit yang disebabkan karena menurunnya sistem kekebalan tubuh. Ada tiga tahap perkembangan HIV menjadi AIDS, yaitu stadium awal inveksi HIV dan window periode (masa jendela); stadium tanpa gejala atau HIV+, dan stadium dengan gejala dan stadium AIDS.

Kasus HIV/AIDS sebenarnya seperti fenomena gunung es. Hanya 10.156 kasus terdeteksi, padahal diperkirakan ada 90.000 sampai130.000 kasus terjadi di Indonesia. Hal ini karena orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) kurang mendapatkan informasi. Mereka tak menyadari dirinya terinfeksi. Di sisi lain ada cukup banyak kasus orang yang sudah tahu dirinya terinfeksi, enggan memeriksakan diri dan justru memilih untuk bunuh diri. Mungkin karena kurang pendampingan sehingga mereka terganggu secara psikologis.

Penularan HIV

Virus HIV terdapat dalam cairan seksual (cairan vagina dan air mani), darah, dan air susu ibu (ASI). Orang dapat terinfeksi HIV melalui kegiatan yang menyebabkan terjadinya pertukaran cairan, misalnya ketika berhubungan seksual, bayi yang diberikan ASI, dan penggunaan narkoba dengan alat suntik yang sama. Jadi, kalau bersentuhan, ciuman, tukar menukar alat makan, tidak akan terinfeksi penyakit AIDS.

Tidak mudah untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak. Jika Anda ingin tahu bagaimana ciri-ciri orang dengan HIV+, bercerminlah! Ciri-ciri fisik seseorang pengidap HIV+ sama saja dengan orang normal. Satu-satunya cara untuk mengetahui seseorang terinfeksi HIV adalah melalui tes darah untuk melihat ada atau tidaknya antibodi HIV. Ada tiga macam Tes HIV: Tes Screening, Tes Konfirmasi dan Tes Alternatif.

Tes HIV idealnya melalui proses Voluntary Counseling and Testing (VCT). Biasanya tes sejenis ini dilakukan secara rahasia, sukarela dan jelas tujuannya dengan pendamping. Namun ada pula tes yang dilakukan secara paksa karena diwajibkan (mandatory), seperti yang terjadi pada buruh migran indonesia (BMI). Hal ini justru bertolak belakang dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. 38/2004: “Tidak boleh mewajibkan adanya tes HIV secara mandatory atau tes HIV secara wajib bagi pekerja/buruh dalam proses rekrutmen”. KEP.68/MEN/IV/2004 dan Kaidah ILO tentang HIV/AIDS di dunia kerja juga menyatakan dengan tegas bahwa tindkan HIV tidak boleh dilakukan secara mandatory.

Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV. Obat yang sekarang ada yaitu ARV (Anti Retroviral) yang digunakan sebagai terapi untuk menghambat berkembangbiaknya virus dalam tubuh. Terapi ARV memberikan kesempatan pada ODHA untuk hidup lebih produktif.

Apakah Buruh Migran rentan terhadap HIV/AIDS?

Perlu menjadi catatan juga bahwa kerentanan buruh migran terhadap HIV/AIDS terjadi di setiap tahapan migrasi. Keadaan mereka rentan karena terjebak dalam trafficking. Di dalamnya ada unsur perekrutan, pemindahan, penampungan atau penerimaan dengan ancaman, paksaan, kekerasan, penculikan, pemalsuan penyalahgunaan wewenang, dll. Proses trafficking terjadi mulai saat perekrutan sampai dengan tahap pulang ke negara asal.

Kerentanan buruh migran dalam trafficking dipengaruhi situasi dan kondisi yang ada: para buruh migran berusia 14-50 tahun dalam usia produktif untuk bekerja dan seksual aktif. Hubungan seksual tidak aman, bermigrasi tidak bersama pasangan seksual (suami/istri), bekerja minimal dua tahun, tidak memiliki akses kesehatan yang memadai, rentan terhadap eksploitasi dan kekerasan, menjalani tes kesehatan masal yang tidak higienis.

Strategi jitu terhindar dari virus HIV

Beberapa tips ini penting untuk diketahui para BMI untuk terhindar dari situasi kerentanan terhadap HIV ini.

  • Jangan sampai terjebak dalam masalah trafficking! Caranya? Lakukan migrasi aman!
  • Lengkapi dengan dokumen atau surat-surat yang aman
  • Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang negara tujuan, pekerjaan yang ditawarkan, persyaratannya, agen penyalur, akses bantuan, dll.
  • Waspada terhadap situasi dan beberap pihakl yang dapat mendorong terjadinya pelecehan dan kekerasan seksual, penipuan, bujuk rayu, dll.
  • Lakukan perlawanan dan laporkan kepada pihak berwajib ketika terjadi pelecehan dan kekerasan seksual maupun penipuan
  • Mencatat dan menghubungi tempat-tempat yang bisa membantu bila ada masalah.


Untuk menghidari kerentanan terhadap HIV ini beberapa wanti-wanti ini juga perlu diperhatikan.

  • Pastikan penggunaan jarum suntik yang steril
  • Hindari bertukar jarum suntik atau alat-alat tajam atau tusuk
  • Gunakan selalu kondom saat berhubungan seks beresiko
  • Bila ada IMS (Infeksi Menular Seksual seperti gonorhoe, sypilis, kutil kelamin, herpes genitalis, ulkus mole/chancroid, kutu kelamin dan scabies)
  • Jika memiliki masalah, bicarakan kepada orang yang dapat dipercaya atau encari tempat rujukan.


Tahap Perkembangan HIV menjadi AIDS

Stadium awal infeksi HIV dan Window Period (masa jendela). Tidak semua penderita menunjukkan gejala, tapi kebanyakan menunjukkan gejala seperti flu, letih, dan panas yang berlangsung selama 1-2 minggu. Pada tahap awal infeksi yakni 3-6 bulan sejak tertular HIV, tubuh belum membentuk antibodi secara sempurna, sehingga tes darah akan menunjukkan positif. Masa 3-6 bulan disebut ‘masa jendela’. Pada periode ini, orang tersebut sebenarnya sudah sangat potensial menularkan HIV pada orang lain. Hasil positif biasanya diperoleh setelah melewati masa 6 bulan setelah masuknya HIV tersebut.

Stadium tanpa gejala atau HIV+. Pada umumnya berlangsung selama 5-10 tahun. Pada tahap ini tidak menunjukkan gejala apapun, penderita seperti orang sehat tetapi sistem kekebalan tubuh akan menurun. Pada orang normal, didapatkan CD4: 450-1.200 sel per ml. Bila sel CD4 tersebut menurun sampai 200 atau kurang maka penderita akan masuk stadium AIDS.

Stadium dengan gejala dan stadium AIDS. Terjadi ketika kekebalan tubuh penderita telah sangat menurun. Sehingga pada tahap ini penderita mudah sekali diserang penyakit berbahaya yang mengambil kesempatan untuk muncul saat kekebalan tubuh sangat lemah (infeksi oportunistik). Penyakit-penyakit yang terutama terjasi adalah: selalu terasa lelah, pembengkakan kelenjar pada leher atau lipatan paha, panas yang berlangsung 10 hari, keringat malam, penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan akibatnya, TBC, diare yang berkangsung lama, infeksi jamur pada mulut dan tenggorokan, kanker kulit (Sarkoma Kaposi), gangguan sistem syaraf pusat, dll.

Tiga Macam Tes HIV

Tes Screening dilakukan sebagai tes tahap pertama karena lebih mudah dilakukan, lebih murah dibandingkan tes konfirmasi. Tes Screening bisa dilakukan dengan dua cara: ELISA (Enzym Linked Immuno Sorbent Assay) dan RAPID test, ELISA digunakan untuk mencari antibodi HIV yang ada dalam darah seseorang. Sifat tes ini sangat sensitif dalam membaca kelainan darah. RAPID Test relatif lebih murah dan pelaksanaannya cepat (Hasil diperoleh kurang dari 20 menit). Tes ini memiliki sensivitas lebih dari 99% dan spesifik lebih dari 98%.

Tes Konfirmasi dilakukan setelah diperoleh hasil yang positif dari tes screening. Tes yang digunakan adalah Western Blot. Tes ini juga melihat kehadiran antibodi HIV dengan lebih akurat, namun tes ini jauh lebih mahal dibanding ELISA.

Tes Alternative sering digunakan sebagai dasar pertimbangan pemberian obat bagi seseorangyang HIV+. Tes yang biasa digunakan adalah CD4 Count Test (Tes perhitungan CD4) dan Viral Load. CD4 Count Test mengukur dampak dari virus HIV terhadap sistem kekebalan tubuh. Dengan mengukur berapa banyak sel CD4 di dalam darah maka dokter dapat menentukan seberapa besar kerusakan pada sistem kekebalan tubuh. Seseorangyang sehat memiliki 500-1500 sel CD4 dalam setiap milimeter darahnya. Bila jumlah sel CD4 berada dibawah 500 dianjurkan untuk menjalani terapi pengobatan untuk penyakit-penyakit simptomatik. Viral Load mengukur jumlah virus HIV dalam darah. HIV terus-menerus berbiak dan melipatgandalkan dirinya dalam aliran darah. Lebih besar jumlah Viral Load, lebih cepat HIV berkembangbiak, dan lebih cepat sistem kekebalan tubuh dirusak. Hasil tes di atas 5.000-10.000 termasuk kategori tinggi.

Masalah HIV/AIDS adalah masalah kita bersama!**

4 pemikiran pada “Buruh Migran (Perempuan) Rentan terhadap HIV/AIDS

  1. saya khawatir dengan buruh migran yang kembali dari mancanegara, apakah mungkin PJTKI yang mengirim membantu pemeriksaan setiba mereka kembali di tanah air untuk memastikan kondisi kesehatan mereka, antara lain dari HIV/AIDS?

  2. saya khawatir dengan buruh migran yang kembali dari mancanegara, apakah mungkin PJTKI yang mengirim membantu pemeriksaan setiba mereka kembali di tanah air untuk memastikan kondisi kesehatan mereka, antara lain dari HIV/AIDS?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s