Siang Ubi, Malam Juga Ubi!

Standar

Iswanti Suparma

NAMANYA Defianus Kaka. Jenis kelaminnya laki-laki. Umurnya 1,7 tahun, tapi berat badannya hanya berkisar enam kilogram. Anak malang yang berbadan layu ini belum bisa berjalan. Defianus Kaka juga mengidap penyakit kambuhan gangguan saluran nafas ISPA dan malaria. Beberapa saat lalu —April 2006— dia baru saja keluar dari RS Caritas, Waitabula, karena marasmus.

Barangkali pertanyaan saya tak beda dengan yang Anda pikirkan. Makan apa Defianus ini, sampai semua tulang iganya tampak bersembulan dari tubuhnya yang telanjang?
Oh ya, dia telanjang bukan karena mau bergaya karena saya akan memotretnya, melainkan memang begitulah kesehariannya. Dia tidak berpakaian. Kalau tidur saja berselimut. Dalam foto, yang ada di sebelahnya adalah kakak kandung, dan yang lain adalah “Om”.

Bingung? Bagi orang luar Sumba, mungkin membingungkan, tapi tidak bagi orang Sumba. Maksudnya begini .. Defianus Kaka memiliki dua saudara kandung. Keduanya juga masih balita (lima tahun dan tiga tahun 10 bulan). Kristina Kaka adalah ibu dari ketiga balita ini.

Sementara itu, Kristina masih tinggal di tempat orangtuanya, pasangan Andreas Kodi Mete dan Margaretha Pati Bebe yang memiliki delapan anak. Kristina adalah anak pertama dari pasangan ini. Dan dua anak terakhir dari pasangan ini juga masih balita. Nah, anak bungsu pasangan Andreas dan Margaretha yang berumur 2,5 tahun inilah yang berfoto dengan kedua keponakannya. Satu adik perempuan Kristina sudah menikah, dengan satu anak berumur empat bulan.

Jadi, totalnya, dalam rumah panggung beratap daun ilalang berukuran sekitar delapan kali enam meter, tempat tinggal mereka itu, terdapat 14 jiwa, dan enam di antaranya adalah balita. Hal lazim di Sumba kiranya ibu dan anak perempuannya “berlomba” susul-menyusul dalam melahirkan.

Untuk menghidupi 16 jiwa, Andreas hanya mengandalkan 30 pohon jambu mete di kebunnya yang tak seberapa luas. Dari panen jambu mete, paling banyak Andreas hanya mengantongi Rp300.000. Kalau harga turun, malah paling hanya Rp200.000. Di sela pohon jambu mete, ditanami padi yang paling banyak menghasilkan satu karung atau lima blèk kaleng biskuit Winston. Atau, kalau ditanami jagung, hanya menghasilkan sekitar tiga sampai lima ‘bola’ (ukuran tempurung kelapa).

Kekurangan pangan? Sudah tentu! Untuk mencukupi kebutuhan pangannya, beberapa anak, Margaretha dan Andreas, bekerja sebagai buruh untuk membersihkan kebun jambu mete milik orang lain. Itu pun boleh dikatakan masih tak cukup.

Sehari, mereka paling hanya makan dua kali. Biasanya Margaretha memasak dua kali dalam sehari, dengan ukuran panci sembilan liter. Panci sebesar itu dipenuhi dengan ubi kayu. Paling-paling, Margaretha akan menambah masak sayuran, yang juga dari daun ubi.

Ubi inilah yang sehari-hari dimakan Defianus Kaka dengan saudara-saudaranya yang lain yang masih balita. Pagi ubi, siang ubi dan malam juga ubi! Makanan mereka tidak beda dengan makanan orang dewasa, mungkin bedanya hanya sedikit dihaluskan. Apa daya? Hanya itu kemampuan mereka. Syukur-syukur ada program PMT (Pemberian Makanan Tambahan) dari posyandu atau puskesmas, yang datangnya tidak tentu, tergantung ada proyek atau tidak dari Dinas Kesehatan! Jika tidak ada, ya sudah. Terima nasib!**

Acuan: Departemen Kesehatan RI, Tabel Baku Rujukan Penilaian Status Gizi Anak Perempuan dan Laki-laki, Usia 0 s.d. 9 Bulan, menurut Berat Badan dan Umur

10 pemikiran pada “Siang Ubi, Malam Juga Ubi!

  1. Sdr. Iswanti, hal dan kisah2 begini sudah disampaikan ibu Sri Palupi dari Ecosoc berkali-kali, dan juga disajikan melalui Kompas hari ini 9/27/06 halaman utama.Ini artikel yang baik sekali. Tetapi, kalau kita hanya berteriak-teriak kepada orang2 yg mungkin setengah atau total “tuli” (NB: Pemerintah) lalu kita mau mengharapkan hasil apa dalam waktu singkat? Jangan terlalu mengharapkan banyak hasil. Lalu apakah kiranya saran dan pandangan anda untuk menangani masalah tersebut? Mengapa orang2 peduli seperti anda dsb tidak mengorganisir gerakan membantu orang seperti ini. Setitik kecil usaha sudah dilakukan melalui fund raising untuk mencoba “menambal” masalah disekitar kita dan dana yg terkumpul sudah diserahkan ke Ecosoc oleh saudara2 kita di komunitas masyarakat Indonesia dari Gereja Katolik Fullerton, Orange County, USA. Akan tetapi sampai sekarang tidak ada cerita, tidak ada follow up kepada yang mereka yang membantu, atau apapun rencana kerja dsb sehingga scope yang lebih luas dapat dilakukan dari organisasi yg “katanya” mau melakan sesuatu untuk busung lapar. Hal-hal beginilah yang mematikan semangat orang2 yang sudah, ingin, dan mau membantu karena “ujung2nya” alias action plannya tidak begitu jelas karena “repot/sibuk/tidak punya waktu” dsb dsb sehingga feedback dan penyampaiannya terputus. Mereka tidak butuh diberikan ucapan ini itu, hanya tentunya ingin tahu hasil usaha mereka itu buah buahnya apa. Sekecil apapun bantuan orang, saya rasa seharusnya kita menghargai mereka. Jangan hanya kita melihat dana bantuan yang besar2 saja yang mungkin banyak dirasakan oleh LSM2 yang banyak “berkeliaran”.Kami tahu dana yang dibutuhkan besar sekali dan kalau rencana kerjanya jelas dan dilakukan secara sistematis saya yakin akan banyak yang akan membantu. Kita tidak bisa demikian saja memberikan dan menyuntik dana yang tentunya tak akan kunjung ada penyelesaiannya. Harus ada rencana keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Harus ada kemauan keras untuk bekerja mencari jalan keluar. Jangan hanya mengandalkan kata2 “kami tidak berdaya, tolonglah kami”. Tentu, mereka harus dibantu tetapi harus juga dicarikan jalan keluar dari masalah kemiskinan mereka, janganlah kita hanya berteriak-teriak minta tolong saja tanpa ikut memikirkan solusinya. Banyak orang yang mau membantu tetapi tidak tahu jalur yang tepat. Kami juga tidak tahu siapa yang benar2 mau bekerja dan tidak hanya berteriak-teriak saja.

  2. Sdr. Iswanti, hal dan kisah2 begini sudah disampaikan ibu Sri Palupi dari Ecosoc berkali-kali, dan juga disajikan melalui Kompas hari ini 9/27/06 halaman utama.Ini artikel yang baik sekali. Tetapi, kalau kita hanya berteriak-teriak kepada orang2 yg mungkin setengah atau total “tuli” (NB: Pemerintah) lalu kita mau mengharapkan hasil apa dalam waktu singkat? Jangan terlalu mengharapkan banyak hasil. Lalu apakah kiranya saran dan pandangan anda untuk menangani masalah tersebut? Mengapa orang2 peduli seperti anda dsb tidak mengorganisir gerakan membantu orang seperti ini. Setitik kecil usaha sudah dilakukan melalui fund raising untuk mencoba “menambal” masalah disekitar kita dan dana yg terkumpul sudah diserahkan ke Ecosoc oleh saudara2 kita di komunitas masyarakat Indonesia dari Gereja Katolik Fullerton, Orange County, USA. Akan tetapi sampai sekarang tidak ada cerita, tidak ada follow up kepada yang mereka yang membantu, atau apapun rencana kerja dsb sehingga scope yang lebih luas dapat dilakukan dari organisasi yg “katanya” mau melakan sesuatu untuk busung lapar. Hal-hal beginilah yang mematikan semangat orang2 yang sudah, ingin, dan mau membantu karena “ujung2nya” alias action plannya tidak begitu jelas karena “repot/sibuk/tidak punya waktu” dsb dsb sehingga feedback dan penyampaiannya terputus. Mereka tidak butuh diberikan ucapan ini itu, hanya tentunya ingin tahu hasil usaha mereka itu buah buahnya apa. Sekecil apapun bantuan orang, saya rasa seharusnya kita menghargai mereka. Jangan hanya kita melihat dana bantuan yang besar2 saja yang mungkin banyak dirasakan oleh LSM2 yang banyak “berkeliaran”.Kami tahu dana yang dibutuhkan besar sekali dan kalau rencana kerjanya jelas dan dilakukan secara sistematis saya yakin akan banyak yang akan membantu. Kita tidak bisa demikian saja memberikan dan menyuntik dana yang tentunya tak akan kunjung ada penyelesaiannya. Harus ada rencana keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Harus ada kemauan keras untuk bekerja mencari jalan keluar. Jangan hanya mengandalkan kata2 “kami tidak berdaya, tolonglah kami”. Tentu, mereka harus dibantu tetapi harus juga dicarikan jalan keluar dari masalah kemiskinan mereka, janganlah kita hanya berteriak-teriak minta tolong saja tanpa ikut memikirkan solusinya. Banyak orang yang mau membantu tetapi tidak tahu jalur yang tepat. Kami juga tidak tahu siapa yang benar2 mau bekerja dan tidak hanya berteriak-teriak saja.

  3. Ytk. Sdr. Anonimous, terima kasih atas tanggapan anda terhadap tulisan Sdri. Iswanti, yang membantu Ecosoc dalam melakukan riset tentang masalah busung lapar di NTT. Bersama ini saya hanya ingin menyampaikan klarifikasi soal dana dari gereja di USA yang masuk ke rek. Ecosoc. Dana itu masuk ke rekening Ecosoc tgl 21 September, sebesar Rp 28.593.750. Meskipun dana itu masuk ke rekening Ecosoc, tapi dana itu bukan ditujukan untuk kegiatan yang dilakukan Ecosoc, melainkan untuk kegiatan yang dilakukan Rm. Sandyawan dalam membantu korban gempa Yogya. Rekening Ecosoc hanya dipinjam untuk mentransfer dana yang ditujukan untuk Rm. Sandyawan. Saya yakin anda juga tahu bahwa dana itu tidak diintensikan untuk membantu anak busung lapar, melainkan untuk membantu korban gempa. Jadi bagaimana mungkin kami menggunakan dana yang tidak diperuntukkan untuk kegiatan yang kami lakukan? Bukankah itu korupsi? Kami sudah menyampaikan keberadaan dana itu kepada Rm. Sandyawan. Kami juga sudah mengirimkan email balasan kepada pastor di AS yang mengumpulkan dana tsb. Ucapan terima kasih pun sudah kami buat untuk dibawa ke USA oleh penghubung pemberi dana. Selama ini kepada para penyumbang dana, kami selalu laporkan hasil kegiatan dan penggunaan dananya. Selain itu, kegiatan membantu anak busung lapar ini adalah kegiatan jaringan, bukan kegiatannya Ecosoc semata. Jadi penggunaan dana juga atas sepengetahuan jaringan. Demikian klarifikasi dari kami. Bapak bisa cek lebih lanjut ke pastor pengumpul dana di USA dan ke Rm. Sandyawan sebagai pihak yang dituju oleh penyumbang di USA Terima kasihSri Palupi Ketua Institute for Ecosoc Rights

  4. Ytk. Sdr. Anonimous, terima kasih atas tanggapan anda terhadap tulisan Sdri. Iswanti, yang membantu Ecosoc dalam melakukan riset tentang masalah busung lapar di NTT. Bersama ini saya hanya ingin menyampaikan klarifikasi soal dana dari gereja di USA yang masuk ke rek. Ecosoc. Dana itu masuk ke rekening Ecosoc tgl 21 September, sebesar Rp 28.593.750. Meskipun dana itu masuk ke rekening Ecosoc, tapi dana itu bukan ditujukan untuk kegiatan yang dilakukan Ecosoc, melainkan untuk kegiatan yang dilakukan Rm. Sandyawan dalam membantu korban gempa Yogya. Rekening Ecosoc hanya dipinjam untuk mentransfer dana yang ditujukan untuk Rm. Sandyawan. Saya yakin anda juga tahu bahwa dana itu tidak diintensikan untuk membantu anak busung lapar, melainkan untuk membantu korban gempa. Jadi bagaimana mungkin kami menggunakan dana yang tidak diperuntukkan untuk kegiatan yang kami lakukan? Bukankah itu korupsi? Kami sudah menyampaikan keberadaan dana itu kepada Rm. Sandyawan. Kami juga sudah mengirimkan email balasan kepada pastor di AS yang mengumpulkan dana tsb. Ucapan terima kasih pun sudah kami buat untuk dibawa ke USA oleh penghubung pemberi dana. Selama ini kepada para penyumbang dana, kami selalu laporkan hasil kegiatan dan penggunaan dananya. Selain itu, kegiatan membantu anak busung lapar ini adalah kegiatan jaringan, bukan kegiatannya Ecosoc semata. Jadi penggunaan dana juga atas sepengetahuan jaringan. Demikian klarifikasi dari kami. Bapak bisa cek lebih lanjut ke pastor pengumpul dana di USA dan ke Rm. Sandyawan sebagai pihak yang dituju oleh penyumbang di USA Terima kasihSri Palupi Ketua Institute for Ecosoc Rights

  5. iseng saya ngecek blog saya lewat technocrati, ha kok blog ini ngelink blog saya. Setelah ditelususururi (salah tulis kan?) ternyata yang di link itu tentang malaria…ha malah jadi gak enak… wong tulisan saya yang di link ke postingan ini kan jan tidak membahas malaria secara lengkap (apalagi akurat dan ngilmiyah!!) wong postingan saya cuman berisi pengalaman pribadi kena malaria je… hehehehehesalah kenal ya…eh, kalo masalah kesehatan warga endonesia, jgn kuatir, kita punya menkes yang kaya, anaknya saja nikahannya gila2an, apalagi buat ngurusi rakyat endonesia yang jelas menjadi dedikasi beliau dalam bekerja??? klik http://bergerak.blogspot.com/2006/09/kala-duit-tak-berharga.html dan http://bergerak.blogspot.com/2006/08/karaoke-dan-show-room-menkes.htmlhuahahaha bangsakuuuuuuuuuuuuuu!!

  6. iseng saya ngecek blog saya lewat technocrati, ha kok blog ini ngelink blog saya. Setelah ditelususururi (salah tulis kan?) ternyata yang di link itu tentang malaria…ha malah jadi gak enak… wong tulisan saya yang di link ke postingan ini kan jan tidak membahas malaria secara lengkap (apalagi akurat dan ngilmiyah!!) wong postingan saya cuman berisi pengalaman pribadi kena malaria je… hehehehehesalah kenal ya…eh, kalo masalah kesehatan warga endonesia, jgn kuatir, kita punya menkes yang kaya, anaknya saja nikahannya gila2an, apalagi buat ngurusi rakyat endonesia yang jelas menjadi dedikasi beliau dalam bekerja??? klik http://bergerak.blogspot.com/2006/09/kala-duit-tak-berharga.html dan http://bergerak.blogspot.com/2006/08/karaoke-dan-show-room-menkes.htmlhuahahaha bangsakuuuuuuuuuuuuuu!!

  7. Bang Pi’i, blog Anda juga kerèn. Karenanya kami nge-link ke blog Anda, “meskipun” Anda hanya “menyinggung” malaria. Tapi rasanya begitu orisinal karena pengalaman pribadi Anda sendiri. Itu asli, namanya. Layak di-“link”. “Ya, malaria masih cukup menakutkan bagi kawasan indonesia timur. Dan bukan baen-baen, kemaren saya sempat layat ke pemakaman ..” Inilah yang terutama kami acu, pernyataan sampéyan yang tak ragu-ragu tentang dampak malaria dan bagaimana persepsi masyarakat, meskipun Anda bilang, anehnya, Anda sendiri “cengèngèsan. Mungkin punya rumus anti-malaria? Bisa dibagikan? Anda sendiri tampaknya pemerhati Indonesia Timur, banyak punya teman di sana? Kecuali itu, menurut kami, salah satu definisi link yang memiliki daya “spidering” itu adalah juga untuk “cari teman”. Mungkin yang belakangan ini bisa jadi kebablasan sih. Semoga para blog aggregator tak menghukum kami karena keinginan bersahabat dan berbagi informasi meski cumna nyrèmpèt-nyrèmpèt

  8. Bang Pi’i, blog Anda juga kerèn. Karenanya kami nge-link ke blog Anda, “meskipun” Anda hanya “menyinggung” malaria. Tapi rasanya begitu orisinal karena pengalaman pribadi Anda sendiri. Itu asli, namanya. Layak di-“link”. “Ya, malaria masih cukup menakutkan bagi kawasan indonesia timur. Dan bukan baen-baen, kemaren saya sempat layat ke pemakaman ..” Inilah yang terutama kami acu, pernyataan sampéyan yang tak ragu-ragu tentang dampak malaria dan bagaimana persepsi masyarakat, meskipun Anda bilang, anehnya, Anda sendiri “cengèngèsan. Mungkin punya rumus anti-malaria? Bisa dibagikan? Anda sendiri tampaknya pemerhati Indonesia Timur, banyak punya teman di sana? Kecuali itu, menurut kami, salah satu definisi link yang memiliki daya “spidering” itu adalah juga untuk “cari teman”. Mungkin yang belakangan ini bisa jadi kebablasan sih. Semoga para blog aggregator tak menghukum kami karena keinginan bersahabat dan berbagi informasi meski cumna nyrèmpèt-nyrèmpèt

  9. dari blakasuta jakaSalam…. wah saya harus manggil sampeyan apa ya??maaf baru baca email sampeyan lantaran kesibukan sayamengamankan penerimaan negara! (halah) boong bgt!!selain beberapa hari sebelum b\puasa kemarin malariasaya kambuh lagi.Indonesia timur ya?? entah bagaimana saya malah jatuhcinta dengan daerah yang kalo dibanding dg kampunghalaman saya di betawi kok seperti langit dan bumilho. Tapi begitulah saya jatuh cinta….tentang malaria sebenarnya ada pengobatan yangsifatnya lebih cepat daripada sekedar menelan kinaterus-terusan yang bikin kuping budek… sampeyan tahudaun kapuk randu?? nah… rebus segenggam daunnyadalam 2 gelas aer hingga tinggal setengahnya…minum setengah gelas pada pagi hari, sisanya pada sorehari… dalam seminggu teman saya sembuh. Saya tak maumencobanya… lantaran saya ndak bisa sama sekalimenelan sesuatu yang pahit!!!!!senang berkenalan dengan anda…nanti saya kalo ada waktu saya bikin link dr blog sayaagar mudah mbukak blog sampeyan semua… soalnya(maaf) saya susah menghapalnya… saya ini orang bodohdan kampungan kok… hehehehesudah ah…salam!

  10. dari blakasuta jakaSalam…. wah saya harus manggil sampeyan apa ya??maaf baru baca email sampeyan lantaran kesibukan sayamengamankan penerimaan negara! (halah) boong bgt!!selain beberapa hari sebelum b\puasa kemarin malariasaya kambuh lagi.Indonesia timur ya?? entah bagaimana saya malah jatuhcinta dengan daerah yang kalo dibanding dg kampunghalaman saya di betawi kok seperti langit dan bumilho. Tapi begitulah saya jatuh cinta….tentang malaria sebenarnya ada pengobatan yangsifatnya lebih cepat daripada sekedar menelan kinaterus-terusan yang bikin kuping budek… sampeyan tahudaun kapuk randu?? nah… rebus segenggam daunnyadalam 2 gelas aer hingga tinggal setengahnya…minum setengah gelas pada pagi hari, sisanya pada sorehari… dalam seminggu teman saya sembuh. Saya tak maumencobanya… lantaran saya ndak bisa sama sekalimenelan sesuatu yang pahit!!!!!senang berkenalan dengan anda…nanti saya kalo ada waktu saya bikin link dr blog sayaagar mudah mbukak blog sampeyan semua… soalnya(maaf) saya susah menghapalnya… saya ini orang bodohdan kampungan kok… hehehehesudah ah…salam!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s