Gang dan Kebebasan

Standar

Oleh Sri Maryanti

Apakah Anda pernah menyaksikannya? Atau kebetulan melihatnya?

SATU jam selewat shalat `Isâ’, potongan kehidupan ini biasanya terjadi. Coba tengok ke sepanjang gang-gang perumahan di Jakarta. Di gang sempit yang hanya bisa dilalui satu mobil sekali pun, akan sering terlihat pemandangan ini. Dua atau tiga remaja bergerombol duduk-duduk di luar pagar rumah-rumah yang berderet di kawasan menengah ke atas. Biasanya mereka anak perempuan usia belasan tahun. Memakai kaos model ketat berikut celana jeans selutut ala bintang sinetron. Kadang juga baju biasa. Begitu juga sandal jepit atau alas kaki rumahan tak lupa menyertai mereka. Sesekali ada pemuda-pemuda berada bersama mereka. Siapakah mereka?

Pada saat orang-orang lebih suka bercengkerama bersama keluarga di depan televisi seusai makan malam, anak-anak muda ini lebih suka duduk-duduk di keremangan pinggir jalanan kecil itu. Tertawa dan berkelakar. Kadang dengan dialek khas Jawa atau Banyumasan yang sudah menjadi milik mereka. Sering percakapan yang terjadi di antara mereka diselingi genjrèngan gitar si pemuda yang datang. Lalu senandung lirik-lirik pop, rock, dangdut sampai campursari terdengar.

Ini adalah sekelumit gaya remaja-remaja yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga di beberapa tempat di Jakarta. Kebiasaan bekerja di dalam rumah dengan pola kerja, kewajiban-kewajiban serta tata krama tertentu dan rutin, membentuk satu subkultur baru di luar kehidupan rumah.

Semua tahu, hidup sebagai pekerja rumah tangga, menjadikan seseorang sehari-hari harus bergumul di dapur, pasar, dan seputar rumah majikan. Apalagi pekerja rumah tangga yang berasal dari daerah yang tinggal di rumah majikanmya. Kalau tidak ada aktivitas selain bekerja, maka siang dan malam akan ia lalui di tempat yang sama. Asal tahu saja, sopan-santun yang dituntut para majikan dari pekerja rumah tangganya kadang lebih berat ketimbang yang ia tuntut dari anak buahnya di kantor. Jadi beban bersopan-santun seorang pekerja rumah tangga lebih berat dari pekerja kantoran.

Apa yang sebenarnya membuat mereka senang? Jawabannya mungkin ada pada hari-hari usai gajian. Mungkin juga saat ada kesempatan jalan-jalan di mall beserta majikan. Bisa jadi malah ada di gang-gang depan rumah majikannya usai jam makan malam tersebut.

Ini adalah hal baru yang saya yakini benar.

Gang-gang itu adalah kebebasan. Di sana para remaja tersebut tidak lagi diharuskan berfikir mengenai merek minyak goreng apa yang harus ia beli. Setumpuk jemuran yang belum disetrika. Jadwal memberi makan anjing milik majikan. Lantai yang harus disapu dan dipel. Atau rutinitas mengangkat telpon rumah tiap kali berdering.

Di gang itu ada satu kesempatan berjumpa dengan kawan sesama pekerja rumah dengan kenikmatan percakapan yang intim dan akrab. Saling bercerita tentang keluarga, teman, pacar, dan masa depan tentu suatu kebahagiaan. Perjumpaan-perjumpaan seperti ini tak mereka temukan di dalam rumah majikan.

Di gang itu pula mereka boleh disambangi kekasih-kekasih mereka tanpa perlu ijin dan birokrasi dari majikan pemilik rumah. Maka sejenak gang-gang itu sebetulnya menjadi sesuatu yang sedikit menghidupi dua puluh empat jam waktu milik mereka.

Betul atau tidak pikiran saya? Tanyakan pada pekerja rumah tangga anda.

Categories: [Kota_]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s