Belalang dan Keong Mas di Sumba Timur (1)

Standar

Oleh Prasetyohadi

Benarkah Manusia Tak Berdaya Menghadapi Hama Belalang, Keong Mas dan Kekeringan di Sumba?

MASYARAKAT Sumba di Nusa Tenggara Timur mencatat ‘jutaan’ ekor serangga belalang selama delapan tahun 1998-2005 telah sangat melemahkan ketahanan pangan masyarakat di pulau itu. Hama ini juga menyerang lokasilokasi lain, meski jangkanya lebih pendek. Padi, jagung dan kelapa adalah sasaran mereka. Jika padi dan jagung diganyang habis oleh hama belalang, maka dipastikan mereka tak akan bisa makan seperti biasa. Kemungkinan besar: kelaparan. Banyak orang di Sumba menceriterakan ketika sawah dan ladang mereka disikat belalang, mereka tak tahu mau berbuat apa. Putus asa. Kutuk Tuhan, barangkali. Sejak zaman baheula. Meskipun rasanya manusia sulit belajar dari sejarah, toh ada geliat di sana. Apa upaya-upaya yang dilakukan masyarakat di Sumba Timur untuk menangani hama keparat itu?

Ketika saya kunjungi di rumahnya, Mei 2006, Agus Dapa Loka, seorang petani sekaligus juga guru SMU Andaluri di Waingapu menceriterakan bagaimana mereka kecapaian berusaha mengusir puluhan ribu belalang (Locusta migratoria manilensis) sebelum suami-istri-anak itu akhirnya menangkupkan saja kedua lengan mereka di atas kepala. Tanda mereka sudah menyerah. “Mau apa lagi?” keluhnya sambil terus makan pinang.

Hampir semua petani yang saya temui di Sumba mengeluh dengan cara yang sama. Malah ada juga yang mengisahkan bagaimana mobil pun akhirnya tak bisa jalan, ketika ribuan belalang itu merangkak-rangkak di atas jalan raya beraspal sebelum terlindas oleh ban mobil. Selip. Belalang-belalang terinjak ban mobil. Langsung mati tergencet gepeng. Jadi lendir yang membasahi aspal. Bisa dibayangkan jika jumlah serangga itu ratusan ribu? Atau kalau mobil sedang di tanjakan? Pernah juga ada yang ceritera, pesawat tak jadi terbang karena ribuan belalang sedang lalu lalang di udara.

”Kalau belalang hinggap di pucuk kelapa, kita siap membuat sapu lidi,” tambah petani lain di desa Mauliru, pinggiran kota Waingapu.

Di Kambata Wundut, kecamatan Lewa, keadaannya tak beda. Hosea Merang, mantan sekretaris desa, jebolan kuliah teknik sipil, menceriterakan, belalang tidak makan bulir-bulir padi. Padi di sawah tumbang semuanya. ”Mereka memotong batang padi dari bawah. Padahal sudah menguning.”

Di Jawa, ingat sebentar, bukankah belalang sebanyak itu juga berkembang biak di Gunung Kidul, Yogyakarta? Dan sudah pasti jadi santapan manusia yang lezat, salah satu menu lauk. Tapi kelakuan orang Jawa itu barangkali pamali menurut adat istiadat di Sumba. Orang Jawa (miskin) “rakus”?

Ada yang tak kalah aneh. Setelah hama belalang itu pergi, kemudian tumbuh sejenis gulma rumput yang berbau kurang sedap. Bahkan kambing pun, yang biasanya makan berbagai dedaunan itu, tak mau mendekatinya. Rumput-rumput lain yang biasa dimakan ternak tak bisa tumbuh di sekitar rumput liar ini. Padahal rumput-rumput liar yang bisa setinggi orang dewasa berdiri itu tersebar di mana-mana. Invasi. Mereka menyebutnya rumput “tahi belalang”. Nama lainnya barangkali ini: rumput tai kabala (Chromolina odorata). Pada kaki-kaki belalang itu barangkali terbawa benih-benih rumput liar itu yang berasal dari kawasan sabana atau hutan. Di hutan itulah biasanya kita temui yang sering disebut jadi pemangsa belalang, yaitu burung kakatua. Tapi sayangnya, burung-burung itu sudah banyak dijerat orang. Kembali ke rumput tahi belalang, tampaknya masuk akal bahwa sejauh ini tak terdengar masyarakat setempat pernah menemui jenis rumput itu. Ada kemungkinan besar karena hidup di habitat yang berbeda, tidak lagi di hutan atau sabana, tapi di kawasan pertanian, maka rumput-rumput itu tumbuh dengan penampakan yang sebelumnya tak terlihat.

Semua petani, apalagi yang berpendidikan rendah, di Sumba Timur, singkat kata, merasa putus asa dengan berbagai dampak dan kerugian yang ditimbulkan oleh hama belalang. Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Tapi, lagi-lagi anehnya, tahun 2006 tidak ada belalang menyerang lagi. Entah mereka ke mana, setelah delapan tahun, secara sporadis tapi dalam satuan jangkauan yang luas, terus-menerus membabat tanaman-tanaman pangan.

Salah satu ”teori” diungkapkan oleh teman saya dari desa Mauliru, Ndena Njurumana, pegiat organisasi rakyat Forum Komunikasi Organisasi Rakyat (FK-ORA) di Sumba Timur. Dia menduga musim kering panjang selama tiga tahun membuat jutaan belalang tak bisa lagi berkembang biak. Sebagian besar sudah mati sebelum penghujung musim hujan 2006 yang berlimpah airnya. Tapi teori teman saya ini belum terbukti.

Bagaimana masyarakat Sumba menangani hama-hama ini?
Baca kelanjutannya: Belalang dan Keong Mas di Sumba Timur (2)**

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s