Perlukah Pendidikan Anti-Senyum?

Standar

Oleh Savitri Wisnuwardhani

SENYUM sering dikatakan merupakan ciri budaya bangsa Indonesia dan mungkin juga beberapa negara selain di Indonesia. Senyum merupakan suatu sapaan, suatu ajakan yang tulus. Namun ada beberapa orang yang tidak setuju dengan adanya senyuman sebab senyuman dapat dianggap memancing dan membenarkan tindakan kekerasan baik secara fisik maupun psikologis. Benarkah hal itu? Dan perlukah ada pendidikan anti-senyum untuk mengatasi kekerasan khususnya bagi buruh migran Indonesia (BMI) perempuan yang bekerja di Arab Saudi?

Pandangan perlunya ”tidak tersenyum” terlontar dari seorang staf sebuah perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) dalam suatu dialog publik yang berjudul ”Tantangan dan Implementasi Instrumen Hak Asasi Manusia bagi Buruh Migran Perempuan dan Buruh Migran Tak Berdokumen”. Diselenggarakan oleh Komnas Perempuan, Selasa 25/7/2006. Ia mengatakan bahwa lewat pelatihan-pelatihan PJTKI telah melakukan pembinaan dan pembekalan akhir sebelum BMI khususnya perempuan bekerja ke Arab Saudi. Mereka diajarkan tidak menatap mata majikan, diam dan tidak boleh tersenyum supaya terhindar dari masalah.

Pernyataan staf PJTKI itu membuat saya tergelitik. Lalu muncul pertanyaan di kepala saya, apa yang membuat ia mengatakannya? Apa hubungannya antara senyum dengan kekerasan terhadap perempuan? Apakah itu adalah model pendidikan yang dia berikan kepada BMI perempuan? Mungkin pertanyaan-pertanyaan saya ini juga ada di benak sebagian besar peserta diskusi. Bahkan sampai ada salah satu peserta diskusi yang saking jengkelnya menyilangkan tanda miring di jidatnya ke arah pembicara staf PJTKI itu.

Pernyataan ini juga menggelitik tiga nara sumber diskusi publik yang diundang. Mereka memberikan komentar mengenai ”pelatihan anti-senyum” tersebut yakni bahwa integrasi antara dua orang atau pihak atau masing-masing lebih dari dua yang berasal dari dua negara dan budaya yang berbeda pada dasarnya bukanlah asimilasi. Dalam integrasi pun tidak bisa dicampurkan begitu saja dua cara hidup, dua sikap budaya menjadi satu budaya dengan cara memaksa. Tak bisa dibenarkan pula membuat orang untuk tidak melakukan sesuatu yang secara alam-budayanya memang telah ada di dalam dirinya. Jika dipaksakan, yang terjadi adalah pelanggaran hak asasi manusia.

Selain itu, permasalahan BMI perempuan khususnya yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) tidak hanya terkait dengan masalah ”senyum” itu. Mereka juga protes karena –salah satunya– dipandang kurang pengetahuan dan kurang trampil sehingga majikan marah. PRT dipandang bekerja sangat lamban dan tidak bisa berbicara bahasa setempat.

Model pendidikan yang dilakukan para PJTKI pun harus diperhatikan sebagai masalah yang serius. Sistem pendidikan yang amburadul dengan semangat bisnis dan cari keuntungan sebanyak-banyaknya menyebabkan pendidikan yang diberikan oleh PJTKI cenderung lebih mengutamakan pendidikan tatakrama dan pendidikan kewajiban: pendidikan mana boleh dan tidak boleh. Bukan pendidikan yang menguatkan dan memberdayakan.

Misalnya, para calon pekerja migran tidak boleh membuat majikan marah, ditakut-takuti kalau berbuat salah maka akan dipulangkan, tidak boleh membela diri jika disalahkan majikan, kerja tidak boleh istirahat, tidak boleh makan jika tidak diizinkan majikan dan masih banyak lagi yang harus ditaati dan harus dilakukan oleh BMI perempuan. Sedangkan pendidikan lainnya yang membuat BMI perempuan pintar baik secara intelektual maupun kepribadian –seperti pendidikan bahasa, pendidikan sosial budaya di mana ia akan bekerja, hak-hak apa saja yang dapat ia peroleh terutama sebagai warga negara Indonesia yang bekerja– terabaikan atau tidak mendapatkan penekanan dalam kurikulum pelatihan oleh PJTKI.

Malah dalam kenyataannya, walaupun telah diberikan pembekalan dan pembinaan ”anti-senyum”, tetap saja BMI perempuan mengalami kekerasan fisik karena mereka –secara tak sengaja dan secara ”natural”– tersenyum kepada majikan laki-laki, anak laki-laki atau anggota keluarga lainnya. Sehingga yang terjadi adalah bahwa senyuman yang tulus dan hanya sebatas menyapa dianggap telah mengundang, terutama keinginan laki-laki untuk berbuat yang neko-neko.

Akibatnya, para majikan merasa wajar saja melakukan kekerasan terhadap BMI perempuan, sebab istri dari majikan merasa cemburu. Akhirnya, karena kejadian semacam itu, BMI perempuan kemudian dipulangkan, setelah dianiaya, diperkosa atau bahkan dipulang jenazahnya setelah meninggal saat bekerja.

Akibat berikut: PJTKI mempersalahkan BMI itu sendiri karena dipandang kurang mengikuti pendidikan tata krama yang salah satunya dengan pendidikan anti-senyum. Itulah yang secara tersirat terungkap dalam dialog publik di Komnas Perempuan itu.

Haruskah BMI perempuan kita yang bekerja ke luar negeri selalu mendapatkan masalah dan membuat mereka semakin tak berdaya? Jawabannya saya kembalikan kepada pembaca tulisan ini. Apakah Anda setuju dengan pandangan perlunya pendidikan anti-senyum? Ataukah perlu ada pendidikan lain yang lebih memperkecil terjadinya pelanggaran hak asasi manusia bagi BMI perempuan.**

12 pemikiran pada “Perlukah Pendidikan Anti-Senyum?

  1. selamat malam pak Shihab, maaf saya sangat tergganggu dengan ususlan Anda untuk latihan anti senyum. Memangnya ada ada kalau seorang bMI senyum pada majikan, khansama-sama manusia bukan? kecuali BMI senyum bukan pada manusia. Saya dengan Kapolres Sumba Timur sebaliknya, untuk menghindari tindak kekersan maka Polisi dilatih “senyum tulus” di hadapan 2 lembar kaca besar di ruang kerja Kapolres. Hasilnya sangat bagus, Polisi dan masyarakat bermitra, tidak saling curiga dan tindak kriminal yang dilakukan Polisi dapat dihindari. Kalau Anda mau bisa ke Sumba Timur melihat latihan senyum tulus Polisi.Salam, kami menanti

  2. selamat malam pak Shihab, maaf saya sangat tergganggu dengan ususlan Anda untuk latihan anti senyum. Memangnya ada ada kalau seorang bMI senyum pada majikan, khansama-sama manusia bukan? kecuali BMI senyum bukan pada manusia. Saya dengan Kapolres Sumba Timur sebaliknya, untuk menghindari tindak kekersan maka Polisi dilatih “senyum tulus” di hadapan 2 lembar kaca besar di ruang kerja Kapolres. Hasilnya sangat bagus, Polisi dan masyarakat bermitra, tidak saling curiga dan tindak kriminal yang dilakukan Polisi dapat dihindari. Kalau Anda mau bisa ke Sumba Timur melihat latihan senyum tulus Polisi.Salam, kami menanti

  3. Saya usul untuk mendirikan PJTKI yang dikelola oleh aktivist perempuan dan mereka yang peduli perempuan dengan memberikan pendidikan yang memberdayakan perempuan sebagai pekerja rumah tangga. PJTKI kita ini tidak semata-mata komersiil, mencari untung banyak dengan modal sesedikit mungkin, tetapi ada unsur kemanusiaannya, demi saudara2 kita yg kurang beruntung karena harus putus sekolah dan terpaksa mencari pekerjaan dengan pendidikan dan keterampilan seadanya. Siapa yang bisa mensponsori?Wassalam,Parjoko Midjan

  4. Saya usul untuk mendirikan PJTKI yang dikelola oleh aktivist perempuan dan mereka yang peduli perempuan dengan memberikan pendidikan yang memberdayakan perempuan sebagai pekerja rumah tangga. PJTKI kita ini tidak semata-mata komersiil, mencari untung banyak dengan modal sesedikit mungkin, tetapi ada unsur kemanusiaannya, demi saudara2 kita yg kurang beruntung karena harus putus sekolah dan terpaksa mencari pekerjaan dengan pendidikan dan keterampilan seadanya. Siapa yang bisa mensponsori?Wassalam,Parjoko Midjan

  5. Kalau memang di ARAB sana senyum menjadi masalah, ada kok win-win solutionnya, dimana si BMI tetap bisa senyam senyum bebas, dan si ARAB juga tidak tersinggung.Solusinya adalah BURKHA. Bungkus saja rapat-rapat tubuh si BMI sampai tidak kelihatan batang hidungnya, selain menghindari bangkitnya nafsu syahwat para binatang, para BMI itu juga akan lebih di hargai karena terlihat seperti muslim yang taat. Di balik rapatnya burkha, para BMI juga bisa tersenyum dan menatap apapun yang mereka mau, meski mungkin agak buram.Jadi pendidikan anti-senyum tidak perlu, yang diperlukan adalah pendidikan Burkha-Survival yang mengajarkan gimana caranya bertahan hidup dan tetap produktif dan tetap merasa dianggap manusia meski terbungkus sangat rapat. Betuuul?

  6. Kalau memang di ARAB sana senyum menjadi masalah, ada kok win-win solutionnya, dimana si BMI tetap bisa senyam senyum bebas, dan si ARAB juga tidak tersinggung.Solusinya adalah BURKHA. Bungkus saja rapat-rapat tubuh si BMI sampai tidak kelihatan batang hidungnya, selain menghindari bangkitnya nafsu syahwat para binatang, para BMI itu juga akan lebih di hargai karena terlihat seperti muslim yang taat. Di balik rapatnya burkha, para BMI juga bisa tersenyum dan menatap apapun yang mereka mau, meski mungkin agak buram.Jadi pendidikan anti-senyum tidak perlu, yang diperlukan adalah pendidikan Burkha-Survival yang mengajarkan gimana caranya bertahan hidup dan tetap produktif dan tetap merasa dianggap manusia meski terbungkus sangat rapat. Betuuul?

  7. Seseorang memberikan komentar melalui Forum Pembaca Kompas, isi komentarnya:karena pakaian mini mengundang hasrat birahi, akhirnya kita buat UU pornografi,karena media yg pamer pose bugil, kita berusaha membunuh kebebasan pers, karena goyang dangdut, kita berusaha membunuh kreatifitas penari,karena kata “cium,” kita membantai film “buruan cium gue,”karena senyum mengundang kekerasan, kita juga ingin melarang senyum? heran????Sebenarnya, siapa dan nilai nilai apa yang ingin disuntikan untuk membangun budaya bangsa ini?

  8. Seseorang memberikan komentar melalui Forum Pembaca Kompas, isi komentarnya:karena pakaian mini mengundang hasrat birahi, akhirnya kita buat UU pornografi,karena media yg pamer pose bugil, kita berusaha membunuh kebebasan pers, karena goyang dangdut, kita berusaha membunuh kreatifitas penari,karena kata “cium,” kita membantai film “buruan cium gue,”karena senyum mengundang kekerasan, kita juga ingin melarang senyum? heran????Sebenarnya, siapa dan nilai nilai apa yang ingin disuntikan untuk membangun budaya bangsa ini?

  9. seorang teman membagi berita duka yang sedang dialaminya dengan “tersenyum”. Teman lain yang ada bersama kami, seorang WNA, terheran-heran dan sambil berbisik bertanya kepada saya, kenapa teman itu mengabarkan berita duka sambil “tersenyum”. Jawaban saya: senyuman adalah ekspresi spontan orang Indonesia yang maknanya sangat tersamar. Senyuman melekat di wajah kita dan sangat sulit untuk di rekayasa. Sangat aneh kalau “senyum” dianggap biang keladi kekerasan/pelecehan yang terjadi. Kekerasan/pelecehan bisa terjadi karena kita tidak sadar apa hak kita dan membiarkan orang lain melanggarnya. Pendidikan yang paling penting utk bekal BMI adalah bagaimana memahami hak2nya dan bagaimana dia bisa menjaga diri dan mempertahankan haknya. “Bagaimana menjadi lebih asertif” mungkin bisa menjadi salah satu mata ajaran.

  10. seorang teman membagi berita duka yang sedang dialaminya dengan “tersenyum”. Teman lain yang ada bersama kami, seorang WNA, terheran-heran dan sambil berbisik bertanya kepada saya, kenapa teman itu mengabarkan berita duka sambil “tersenyum”. Jawaban saya: senyuman adalah ekspresi spontan orang Indonesia yang maknanya sangat tersamar. Senyuman melekat di wajah kita dan sangat sulit untuk di rekayasa. Sangat aneh kalau “senyum” dianggap biang keladi kekerasan/pelecehan yang terjadi. Kekerasan/pelecehan bisa terjadi karena kita tidak sadar apa hak kita dan membiarkan orang lain melanggarnya. Pendidikan yang paling penting utk bekal BMI adalah bagaimana memahami hak2nya dan bagaimana dia bisa menjaga diri dan mempertahankan haknya. “Bagaimana menjadi lebih asertif” mungkin bisa menjadi salah satu mata ajaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s